Sabtu, April 23, 2016

Apa Yang Diajarkan Oleh Mozart dan Kobe Bryant tentang Kesuksesan dan Latihan Yang Memiliki Tujuan


Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk masuk ke dalam kelompok elit di bidang (pekerjaan) anda? Dan hal berbeda apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berhasil mencapai tujuan mereka dibandingkan dengan kebanyakan dari kita semua?

Inilah yang ingin diketahui oleh John Hayes, seorang profesor dalam bidang psikologi kognitif di Carnegie Mellon University.

apa yang diajarkan mozart tentang kesuksesan

Hayes telah menyelidiki kaitan antara usaha, praktek, dan pengetahuan yang ada dalam diri orang-orang ‘hebat’ selama beberapa dekade. Dia telah mempelajari para creator (pencipta/penemu) paling berbakat yang dikenal sejarah – seperti Mozart dan Piccaso – untuk mengetahui berapa lama waktu yang mereka perlukan sebelum masuk dalam jajaran top dunia di bidang mereka.

Selain itu, dia juga menyelidiki berbagai pilihan dan pengalaman apa saja yang akhirnya berhasil mengantarkan mereka pada pintu ‘kesuksesan’.

Apa yang ditemukan Hayes dari penyelidikan tersebut?

Mari kita membahas lebih dalam mengenai proyek menarik ini.

Dan yang paling penting dari itu semua, mari kita membahas bagaimana anda (dan saya) dapat menggunakan informasi ini untuk mencapai tujuan kita – yaitu menjadi yang terbaik di bidang kita.

10 Tahun Kebisuan ("10 Years of Silence")


Hayes memulai penelitiannya dengan mempelajari para komposer sukses. Dia menganalisis ribuan karya musik yang diproduksi antara tahun 1685 hingga 1900. Pertanyaan utama yang ada di benaknya adalah, "Berapa lama waktu yang mereka butuhkan – dari mulai pertama kali tertarik dengan musik hingga akhirnya menjadi komposer kelas dunia?”

Dari ribuan karya musik tersebut, Hayes akhirnya mengerucutkan daftarnya hanya menjadi 500. Kesemuanya adalah karya-karya yang paling sering dimainkan oleh berbagai kelompok Simfoni di seluruh dunia – dan dia menganggapnya sebagai ‘masterpiece’ di bidang ini. Ke 500 karya paling populer tersebut diciptakan oleh 76 komposer.

Selanjutnya, Hayes memetakan ‘timeline’ dari karir setiap komposer. Dia menghitung berapa lama mereka telah bekerja (berprofesi sebagai komposer) sebelum akhirnya berhasil menciptakan karya-karya populer mereka.

Dan apa yang ditemukannya adalah, bahwa hampir semua "karya besar" tersebut diciptakan setelah tahun ke-10 dari karir masing-masing komposer yang ditelitinya. (Hanya ada 3 pengecualian dari 500 karya yang ditelitinya, yaitu yang diciptakan pada tahun ke-8 dan ke-9 dari karier si komposer)

Tidak ada satu orangpun yang menghasilkan karya yang luar biasa tanpa menempatkan diri mereka dalam 1 dekade pertama – untuk praktek (berlatih). Bahkan seorang jenius seperti Mozart juga harus bekerja setidaknya sepuluh tahun sebelum akhirnya menghasilkan sesuatu yang menjadi begitu populer.

Berdasarkan penemuannya, Profesor Hayes kemudian mulai merujuk periode ini – periode yang penuh dengan kerja keras dan sedikit pengakuan – sebagai “10 years of silence” (10 tahun kebisuan).

Dalam studi lanjutan, Hayes juga menemukan pola yang serupa pada diri para pelukis terkenal dan penyair populer.

Temuan Hayes ini kemudian dikonfirmasi lebih lanjut oleh penelitian lainnya – seperti penelitian dari profesor K. Anders Ericsson, yang menghasilkan kesimpulan bahwa anda memerlukan "10.000 jam" latihan atau praktek untuk bisa menjadi ahli di bidang anda. (Ide yang kemudian dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell)

Namun begitu, ketika Hayes, Ericsson, dan peneliti lainnya mulai menggali lebih dalam – mereka mendapati bahwa ‘waktu’ hanyalah salah satu bagian dari persamaan yang dimiliki oleh orang-orang hebat tersebut.
Anda tidak akan menjadi sukses hanya karena telah bekerja selama 10 tahun ataupun telah berlatih selama 10.000 jam.

Untuk bisa memaksimalkan potensi anda dan menguasai bidang pekerjaan anda, anda baiknya anda mengetahui bagaimana para ‘orang terbaik’ tersebut berlatih (melakukan praktek).

Sebagai contoh, kebiasaan berlatih Kobe Bryant (superstar NBA) saya rasa sangat cocok untuk saya gunakan disini...



Bagaimana Kobe Bryant Mencapai Puncak Kesuksesannya?


Selain Michael Jordan yang mungkin paling banyak dikenal oleh masyarakat kita, Kobe Bryant juga merupakan salah satu pemain basket paling sukses sepanjang masa.

Selama karirnya sebagai pemain basket, pemenang dari 5 kejuaraan NBA dan perebut 2 medali emas Olimpiade itu telah mengumpulkan kekayaan bersih lebih dari 200 juta dollar (di atas 2,6 trilyun rupiah).

Cerita ini saya dapatkan dari Reddit – dimana Robert, salah satu pelatih atletik untuk tim USA mengisahkan pengalamannya dengan Kobe saat persiapan Olimpiade 2012 yang lalu.

Pengalaman pertama Robert sebagai pelatih fisik Kobe Bryant ini akan menjelaskan kepada anda alasan mengapa sang superstar tersebut bisa menjadi begitu sukses.

Dari Robert, pelatih Tim USA:

Saya diundang ke Las Vegas untuk membantu menjaga kondisi kebugaran Tim USA sebelum mereka berangkat ke London. Saya telah berkesempatan untuk bekerja dengan Carmelo Anthony dan Dwyane Wade di masa lalu, namun ini akan menjadi interaksi pertama saya dengan Kobe.

Malam sebelum latihan pertama, saya baru saja selesai menonton "Casablanca" untuk pertama kalinya, dan saat itu sekitar pukul 3:30 dini hari.

Beberapa menit kemudian, saya sudah berada di tempat tidur, bersiap untuk terlelap, ketika ponsel saya berbunyi. Itu dari Kobe. Dengan gugup saya mengangkatnya.

"Hei, uhh, Rob, aku harap aku tidak mengganggu kan?"

"Uhh, tidak. Ada apa Kob?"

"Aku hanya mau bertanya, mungkin kamu bisa membantuku memberikan latihan untuk menjaga kondisi kebugaran tubuhku, itu saja."

Saya melihat jam. Pukul 4:15.

"Ya tentu saja, aku akan menemuimu di fasilitas sebentar lagi."

Butuh waktu sekitar dua puluh menit bagi saya untuk mempersiapkan perlengkapan dan keluar dari hotel. Ketika saya tiba dan membuka pintu lantai ruangan latihan utama, saya melihat Kobe. Sendirian. Dia bermandikan keringat seakan-akan dia baru saja selesai berenang. Saat itu bahkan belum jam 5:00.

Kami melakukan beberapa latihan kebugaran selama satu jam lima belas menit. Kemudian, kami memasuki ruangan fitnes, dimana dia akan melakukan latihan kekuatan selama 45 menit berikutnya. Setelah itu, kami berpisah. Dia kembali ke ruangan latihan, untuk berlatih ‘menembak’. Saya kembali ke hotel dan terkapar. Wow.

Saya diminta untuk berada di fasilitas latihan sekitar jam 11:00.

Saya terbangun dengan perasaan mengantuk, letih, dan berbagai efek samping lainnya akibat dari kurang tidur (Thanks, Kobe). Saya hanya makan bagel dan bergegas menuju ke fasilitas latihan.

Bagian cerita selanjutnya ini sangat jelas menempel di ingatan saya. Semua pemain Tim USA berada di sana. LeBron sedang berbicara dengan Carmelo dan Pelatih Krzyzewski sedang mencoba untuk menjelaskan sesuatu kepada Kevin Durant. Di sisi kanan dari fasilitas latihan, Kobe seorang diri sedang berlatih ‘menembak’ sambil melompat.

Saya menghampirinya, menepuk punggungnya dan berkata, "Latihan yang baik pagi ini."

"Hah?"

"Pemanasan dan latihan kebugaran. Kerja yang bagus."

"Oh. Ya, terima kasih Rob. Aku sangat menghargai itu."

"Jadi kapan kamu selesai?"

"Selesai apa?"

"Memasukkan bola ke keranjang. Jam berapa kamu meninggalkan fasilitas ini?"

"Oh, sekarang. Aku ingin menembakkan 800 bola. Jadi ya, sekarang."


Bagi anda yang menyimak sejak awal, Kobe Bryant memulai latihan pemanasannya sekitar jam 4:30 pagi, lalu lanjut lari dan latihan sprint sampai jam 6:00, latihan beban mulai jam 06:00 - 07:00 pagi, dan terakhir mulai melatih tembakan (melemparkan 800 bola ke keranjang) dengan melompat dari jam 07:00 - 11:00.

Dan setelah itu, anda sudah bisa menebaknya. Berlatih bersama seluruh anggota tim.

Jadi terlihat sangat jelas jika Kobe sudah melewati 10.000 jam-nya. Namun ada bagian lain dari cerita ini yang bahkan jauh lebih penting lagi.

kesuksesan dan latihan dengan tujuan ala Kobe Bryant

Pentingnya Praktek atau Latihan Dengan ‘Tujuan’


Kobe tidak hanya sekedar muncul dan melakukan banyak latihan. Dia memiliki tujuan yang sangat jelas ketika berlatih: yaitu melakukan 800 kali jump shot.

Dia secara sengaja memfokuskan diri untuk mengembangkan kemampuannya dalam memasukkan bola ke keranjang. Dia bahkan hampir tidak memikirkan berapa lama waktu yang dia habiskan dalam melakukannya.

Hal ini sepertinya sederhana, namun ini sangatlah berbeda dengan kebanyakan dari kita – saat melakukan pendekatan pada pekerjaan setiap harinya.

Ketika berbicara tentang ‘kerja keras’, kebanyakan orang akan menyebutkan jumlah waktu yang mereka habiskan sebagai indikator seberapa keras mereka telah bekerja. (Contohnya, “Saya bekerja 60 jam dalam seminggu!”)

Menghabiskan banyak waktu mungkin akan membuat anda merasa lelah, namun hanya dengan melakukan pekerjaan lebih banyak (walaupun itu 10.000 jam) – juga tidak cukup untuk membuat anda berada di jajaran top.

Itu tidak sama dengan melakukan praktek atau latihan yang disengaja untuk mencapai tujuan tertentu.

Untuk mempermudah anda memahaminya, coba perhatikan analogi berikut ini! (Saya tetap menggunakan olahraga basket agar tetap nyambung dengan cerita di atas).

Dua orang pemain basket sama-sama berlatih lemparan bebas selama satu jam. Pemain A melakukan 200 kali lemparan, pemain B melakukan 50 kali lemparan.

Pemain B melakukan latihannya sendiri. Setiap kali habis melempar, dia mengambil kembali bolanya sendiri, melakukan dribble ringan, dan beberapa kali istirahat sejenak untuk mengobrol dengan teman-temannya.

Pemain A melakukan latihan dengan rekannya. Setiap kali habis melempar, rekannya akan mengoperkan bola kembali kepadanya. Sang rekan juga selalu memperhatikan lemparan yang dilakukan pemain A, membuat catatan-catatan untuk memperbaiki lemparannya. Setiap 10 menit sekali mereka istirahat sejenak, dan pemain A memperhatikan setiap catatan yang dibuat oleh rekannya.

Jika hanya memperhatikan waktu, maka mereka sama-sama menghabiskan 1 jam untuk berlatih lemparan bebas. Keduanya ‘seakan-akan’ telah melakukan kerja keras yang sama.

Namun jika melihat pola / rutinitas cara mereka berlatih, apabila seandainya kemampuan mereka seimbang saat awal, maka siapa di antara mereka yang akan memiliki kemampuan lemparan bebas lebih baik setelah 100 jam latihan?


Saya rasa anda sudah bisa menebaknya sendiri.

Kedua pemain basket dalam contoh di atas sama-sama bisa ‘membual’ bahwa mereka telah berlatih selama 1 jam, namun hanya satu di antara mereka yang benar-benar berlatih dengan tujuan.

Para peneliti telah mencatat bahwa semua orang hebat di setiap industri memiliki komitmen untuk melakukan praktek (latihan) dengan tujuan. Seniman, musisi, atlet, CEO, dan pengusaha terbaik tidak hanya sekedar bekerja atau berlatih lebih keras, mereka bekerja lebih keras untuk mengembangkan kemampuan tertentu.

Menerapkan Hal Ini Dalam Hidup Anda

Bagi banyak orang di dunia barat, Mozart dikatakan sebagai "jeniusnya para orang jenius". Namun bahkan diapun diabaikan selama 10 tahun sebelum memproduksi sebuah karya populer.

Saya tidak tahu bagaimana dengan anda, namun bagi saya ini sangat menginspirasi.

Setiap kali saya merasakan kegagalan, ataupun hasil yang saya dapatkan jauh dari yang saya harapkan – maka saya selalu mengingat penelitian dari profesor Hayes tersebut.

Anda juga dapat melakukan pendekatan yang sama dalam bidang pekerjaan anda. Tetap konsisten melakukan pekerjaan anda (10 years of silence) dan fokus melakukan praktek yang disengaja (untuk tujuan tertentu) demi mengembangkan kemampuan khusus – yang dapat membantu anda.

Dan yang lebih menguntungkannya lagi, hanya dengan fokus selama 1 jam dan melakukan praktek (latihan) dengan tujuan tertentu setiap hari – ini dapat mengantarkan anda pada hasil yang luar biasa dalam jangka panjang.

Sekarang, pilihan ada di tangan anda sendiri.

Apa anda akan memulai perjalanan “10 years of silence” hari ini? Apa anda akan mulai fokus pada pengembangan kemampuan anda? Atau anda hanya akan “berjalan” seperti biasanya, dan berharap nasib memberikan yang terbaik?

Selanjutnya baca:



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...


EmoticonEmoticon