Tampilkan postingan dengan label Info Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Menarik. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 27, 2016

Data Penelitian: Obat Alergi dan Flu Umum Dapat Menyebabkan Alzheimer


Saat sedang berjuang melawan virus (flu) – mengkonsumsi obat adalah langkah yang dapat membuat tubuh kita merasa sedikit lebih nyaman. Begitupula bagi mereka yang menderita alergi, obat-obatan seperti Benadryl bertindak layaknya ‘dewa penolong’ yang akan langsung menghilangkan masalah secara tuntas.

Namun saat ini sepertinya anda harus berpikir lebih panjang sebelum memutuskan untuk sering-sering mengkonsumsi obat flu dan alergi yang umum dijual – terutama jika anda telah melewati usia paruh baya.

Shannon Risacher

penelitian keterkaitan obat flu dan alergi dengan penyakit alzheimer

Para peneliti dari Indiana University School of Medicine menemukan bukti bahwa obat-obatan yang memiliki efek “antikolonergik” kuat dikatakan dapat menyusutkan otak dan menurunkan metabolismenya. Hasil temuan ini sudah resmi diterbitkan dalam sebuah jurnal di JAMA Neurology.

Sebenarnya ini juga bukanlah temuan baru, karena penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara obat antikolinergik dengan gangguan kognitif pada orang-orang yang berusia (sangat) dewasa.

Sebuah studi pada tahun 2013 menyimpulkan, bahwa hanya dengan mengkonsumsi salah satu dari obat-obatan tersebut dalam dua bulan – itu akan menyebabkan masalah memori pada mereka yang berusia tua.



Data Hubungan Obat Flu dan Alergi Dengan Penyakit Alzheimer


Paper akademis terbaru yang dilaporkan oleh Indiana University ini diyakini sebagai yang pertama dalam mempelajari potensi biologi yang mendasari keterkaitan klinis tersebut menggunakan pengukuran neuroimaging metabolisme otak dan atrofi.

"Temuan ini memberikan kita pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kelompok obat-obatan ini dapat bekerja pada otak dengan cara yang mungkin meningkatkan resiko gangguan kognitif dan demensia," kata Shannon Risacher, asisten profesor ilmu radiologi dan pencitraan di Indiana University School of Medicine – yang sekaligus penulis utama dalam studi tersebut.

"Dengan melihat semua bukti penelitian ini, para dokter mungkin harus mempertimbangkan alternatif lain untuk obat antikolinergik jika tersedia saat menangani pasien mereka yang berusia lebih tua."

"Saya pasti tidak akan menyarankan kakek saya atau bahkan orang tua saya untuk mengkonsumsi obat-obatan tersebut kecuali memang terpaksa," tambah Risacher.


Berdasarkan laporan dari Indiana University, para partisipan penelitian yang mengkonsumsi obat-obatan antikolinergik memiliki tingkat metabolisme glukosa lebih rendah – yang mana ini merupakan "biomarker" yang menunjukkan aktivitas otak dan penyakit Alzheimer.

Mereka juga menunjukkan hasil yang lebih buruk pada tes memori jangka pendek dan beberapa fungsi eksekutif (meliputi berbagai kegiatan seperti penalaran verbal, perencanaan dan pemecahan masalah) – jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mengkonsumsi obat-obatan tersebut.

Dari 451 partisipan yang semuanya berusia antara 70 hingga 75 tahun, mereka yang menggunakan obat antikolinergik diketahui mengalami “pengurangan volume otak” saat dilihat menggunakan scan MRI.

Dr. Risacher mengatakan bahwa hasil ini memberikan "petunjuk" dampak biologis dari obat-obatan tersebut pada otak. Namun dia juga menambahkan bahwa, "penelitian lanjutan masih diperlukan jika kita benar-benar ingin memahami mekanisme apa saja yang terlibat."

Referensi :



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Rabu, April 20, 2016

French Fries McDonald's Dikaitkan Dengan Kerusakan Otak, Penyakit Autoimun, dan Kanker


Sebuah uraian terbaru dari proses pembuatan french fries McDonald's mengungkapkan sejumlah bahan yang digunakan di dalamnya telah dikaitkan dengan kerusakan otak, gangguan autoimun, kanker, dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

Apakah anda tahu apa saja yang ada dalam kentang goreng McDonald's kesukaan anda?

bahan-bahan berbahaya dalam kentang goreng McDonald's

Grant Imahara – pemilik Myth Busters memutuskan untuk mencari tahu.

Dia langsung pergi ke pabrik pengolahan McDonald's, dimana dia merasa cukup lega saat mengetahui bahwa makanan cepat saji yang banyak disukai itu memang benar-benar berasal dari kentang.

Namun begitu, beberapa bahan-bahan lainnya sedikit banyak memunculkan rasa kekhawatiran. Seperti di antaranya adalah Dimethylpolysiloxane (dimetil) – yaitu bentuk senyawa silikon yang biasanya ditemukan pada perekat (penambal) tangki akuarium, kondisioner rambut, dan dempul.

Tertiary Butylhydroquinone (TBHQ) – bahan kimia berbasis bensin yang biasanya ditemukan dalam parfum dan bio-diesel. Dan minyak kedelai terhidrogenasi – yang merupakan bentuk dari lemak trans.

Secara umum kentang goreng McDonald's terbuat dari:

  • Kentang
  • Minyak canola
  • Minyak kedelai
  • Minyak kedelai terhidrogenasi
  • Perasa daging sapi alami
  • Gandum terhidrolisa
  • Susu terhidrolisa
  • Asam sitrun
  • Dimetil
  • Dekstrosa
  • Asam sodium pirofosfat
  • Garam
  • Minyak terhidrogenasi
  • TBHQ (Butylhydroquinone Tertiary)



Bahan Berbahaya Dalam Kentang Goreng McDonald's


Dimentil (dimethylpolysiloxane)

Menurut Vanni Hari (Food Babe), dimetil adalah bahan kimia yang dalam beberapa kasus – bahkan mengandung formalin, yaitu zat kimia (sangat) beracun yang dikaitkan dengan kerusakan otak, kanker, alergi, dan gangguan auto-imun.

Menarik untuk dicatat, bahwa kentang goreng McDonald's yang dijual di AS dikatakan lebih buruk daripada yang dibuat di Eropa. Vanni menulis bahwa, dibandingkan dengan yang di AS – french fries yang dijual di Inggris terbuat hanya dari beberapa bahan dasar seperti kentang, minyak sayur, dan sedikit gula serta garam.

Vanni melanjutkan, Uni Eropa benar-benar mengatur penggunaan bahan ini karena mereka sadar – jika bahan kimia buatan manusia ini tidak pernah ditujukan untuk dikonsumsi oleh manusia.

Tertiary Butylhydroquinone (TBHQ)

Walaupun pembuat TBHQ mengklaim bahwa itu adalah jenis dari fenol yang digunakan untuk menstabilkan makanan, lemak, dan minyak nabati terhadap kerusakan oksidatif (sehingga memperpanjang masa penyimpanannya), bahan ini juga ditemukan dalam banyak hal – mulai dari parfum, biodiesel, pernis, lak, resin, dan aditif ladang minyak.

Minyak Kedelai Terhidrogenasi

Yang terakhir, minyak kedelai terhidrogenasi – yang sering juga disebut sebagai "Silent Killer."

Seperti TBHQ, minyak ini juga sering digunakan dalam industri makanan untuk memperpanjang umur simpan (masa kadaluarsa).

Namun begitu, menurut laporan dari para peneliti di Harvard School of Public Health dan Brigham and Women’s Hospital di Boston – setidaknya 100.000 kematian (akibat penyakit jantung) yang terjadi setiap tahun di Amerika Serikat dapat dicegah, "jika orang-orang mengganti lemak trans dengan minyak tak jenuh ganda ataupun tunggal yang lebih sehat.”

Lalu bagaimana dengan kentang goreng McDonald's yang dijual di Asia (khususnya di Indonesia)?

Apa lebih mengarah sama dengan yang dijual di AS? Atau sama dengan yang dijual di Eropa?

Sayangnya saya tidak menemukan sumber referensi yang akurat. Namun jika anda masih ingat dengan kasus mie instant (buatan produsen terbesar) Indonesia yang dinyatakan tidak layak konsumsi di beberapa negara luar – mungkin anda bisa mereka-reka sendiri bagaimana kira-kira ‘fleksibilitas’ badan pengawas makanan kita.

Sekarang, setelah anda mengetahui semua bahan yang terdapat dalam french fries McDonald's – apa anda masih yakin menjadikannya sebagai salah satu makanan favorit anda atau anak-anak anda?

Referensi :



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Sabtu, Maret 05, 2016

Seberapa Bahayakah Radiasi Ponsel Bagi Otak Anda?


Berbagai bukti mengenai bahaya radiasi telepon seluler yang dapat mengganggu kesehatan dan fungsi otak terus saja bermunculan, terutama pada anak-anak. Untuk mengurangi resiko, beberapa langkah berikut ini layak untuk anda pertimbangkan.

Berdasarkan data terbaru dari WHO – saat ini diperkirakan ada sekitar 6,9 miliar pelanggan ponsel – hampir 1 ponsel untuk setiap orang di planet ini, dan jumlah tersebut akan terus bertambah.

bahaya radiasi telepon seluler bagi otak manusia

Jika rata-rata orang Amerika sekarang menghabiskan 162 menit pada perangkat mobile mereka setiap hari, maka anda bisa membayangkan bagaimana dengan orang Indonesia – yang termasuk sebagai salah satu pengguna ponsel tertinggi di dunia.

Hingga saat ini, kontroversi tentang resiko gangguan kesehatan dari penggunaan ponsel masih terus berlangsung. Anda mungkin sudah pernah mendengar/membaca argumen dari kedua belah pihak – bahwa ponsel benar-benar aman. Dan sebaliknya – ada juga pihak yang mengatakan bahwa ponsel dapat menyebabkan kanker otak dan banyak masalah kesehatan lainnya.

Memang memiliki telepon seluler memberikan kenyamanan tersendiri bagi kita, hal ini tidak dapat dibantah. Namun anda juga tentu perlu mengetahui kemungkinan apa saja yang akan terjadi pada otak anda akibat radiasi ponsel.

Mari kita mendalaminya lebih jauh...

Bagaimana Pengaruh Telepon Seluler Terhadap Otak


Pada dasarnya ponsel adalah radio canggih yang bekerja dengan menggunakan energi elektromagnetik – untuk mengirimkan dan menerima suara.

Tubuh kita sendiri sebenarnya selama ini selalu ‘diselimuti’ oleh lautan medan elektromagnetik (EMFs) – yang dihasilkan dari semua perangkat elektronik yang kita miliki. Namun begitu, ponsel diketahui sebagai sumber energi elektromagnetik yang paling cepat berkembang di dunia.

Dan EMFs yang dipancarkan oleh ponsel ini menjadi sangat mengkhawatirkan karena kita begitu sering menggunakannya – itupun secara langsung ditempelkan di kepala kita.

Bagi anda yang memperhatikan, mungkin anda sudah mengetahui jika semua ponsel memiliki nilai tingkat penyerapan tertentu (SAR = Specific Absorption Rate). Menurut Komisi Komunikasi Federal (FCC), SAR adalah ukuran jumlah energi frekuensi radio (RF) yang diserap oleh tubuh saat kita menggunakan ponsel.

Dan tahukah anda jika tidak ada satupun produk telepon selular yang memiliki tingkat SAR = nol? Ini artinya bahwa sebagian dari radiasi ponsel akan terserap oleh tubuh kita, menembus tengkorak dan otak kita.

Berikut adalah sedikit kutipan dari salah satu laporan mengenai efek samping induksi EMF dari radiasi telepon seluler:
Ponsel dan WiFi bukanlah satu-satunya sumber EMFs. Yang mengejutkannya, ternyata peralatan rumah berkabel lainnya seperti kulkas anda, pengering rambut, vacuum cleaner, dan blender juga merupakn sumber EMFs.



1. Radiasi Ponsel Meningkatkan Resiko Kanker Otak

Ketakutan terbesar dari pengguna ponsel di negara-negara maju adalah pertanyaan, “Apakah itu dapat menyebabkan kanker otak?”

Apa anda termasuk diantara orang-orang tersebut? Atau anda tidak pernah berpikir sejauh itu terhadap kesehatan otak anda?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) – mengklasifikasikan radiasi ponsel sebagai karsinogen grup 2B, dan merekomendasikan bahwa, “Konsumen harus mempertimbangkan cara-cara yang dapat mengurangi paparan dari radiasi ponsel."

bahaya paparan radiasi ponsel bagi otak manusia (khususnya anak-anak)

Berdasarkan definisinya, karsinogen grup 2B adalah sesuatu yang diduga sebagai penyebab kanker.

Termasuk di dalam kategori ini adalah hal-hal yang sudah anda ketahui untuk dihindari, seperti: timbal, asap knalpot, DDT, dan kloroform.

Dalam sebuah penelitian terpercaya yang dimuat di NCBI, para peneliti menemukan hubungan yang signifikan antara penggunaan ponsel dalam jangka panjang dengan resiko tumor otak.

Kabar baiknya (jika ini memang pantas disebut sebagai kabar baik) – adalah bahwa dibutuhkan waktu sekitar sepuluh tahun penggunaan ponsel untuk secara signifikan dapat meningkatkan resiko berkembangnya tumor otak ganas.

Saat mencapai batas 10 tahun, maka resiko anda menjadi bertambah 2 kali lipat – namun hanya pada sisi kepala dimana anda sering menempelkan ponsel anda.

Dan yang lebih mengerikannya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa otak anak menyerap radiasi hingga dua kali lebih banyak dibandingkan otak orang dewasa.

Sekarang, apa anda masih berpikiran bahwa memberikan ponsel ke anak anda sebagai “hal yang Baik dan Keren”?

Jika sebelumnya anda pernah bertanya-tanya, “Mengapa masyarakat negara maju sangat melarang anak-anak mereka memiliki ponsel?”, atau “Mengapa anak-anak dari para Bos Produsen Ponsel justru tidak memiliki ponsel?”

Fakta yang saya telah sampaikan di atas itulah jawaban dari pertanyaan anda.

2. Penggunaan Ponsel Menyebabkan Kerusakan Radikal Bebas

Paparan EMF dapat menciptakan radikal bebas – yaitu molekul oksigen tak terikat yang menyerang sel-sel anda, seperti halnya oksigen yang membuat logam menjadi berkarat.

Otak manusia menggunakan 20% dari total asupan oksigen tubuh, sehingga menjadi sangat rentan terhadap kerusakan radikal bebas. Dan paparan EMF dalam jangka panjang akan menyebabkan peningkatan tingkat radikal bebas hingga ke tahap kronis, yang nantinya mengarah pada kerusakan dan penuaan sel otak hingga ke tingkat DNA.

Selain itu, radiasi ponsel juga menekan produksi melatonin. Walaupun secara umum melatonin dianggap sebagai hormon tidur, namun sebenarnya melatonin juga merupakan antioksidan yang kuat – bahkan lebih baik daripada vitamin C.

3. Radiasi HP Menyebabkan Kebocoran Sel Otak

Otak anda dilindungi oleh penghalang yang berupa darah-otak, yaitu sekelompok sel khusus yang bertindak sebagai saringan untuk mencegah racun, patogen, dan zat asing lainnya agar tidak memasuki otak anda.

Dan radiasi dari handphone dapat memecah membran sel otak yang halus, membuat penghalang yang berupa darah otak tadi menjadi lebih mudah ditembus.

Hal yang menyebabkan racun, bahan kimia, berbagai virus, dan logam berat seperti: merkuri – timbal – dan aluminium dapat masuk ke otak, yang nantinya akan mempengaruhi fungsi otak secara negatif.

Kondisi ini juga menyebabkan sel-sel otak mengalami kebocoran ion kalsium yang dibutuhkan untuk komunikasi antar sel-sel otak. Beberapa ahli bahkan percaya jika meningkatnya angka kecelakaan di kalangan pengguna ponsel mungkin bukan diakibatkan oleh gangguan tertentu saat mengemudi, namun karena lambatnya reaksi akibat sel-sel otak yang dibanjiri ion kalsium.
Sebuah jurnal penelitian bahkan mengungkapkan jika seseorang yang mengemudi sambil menelpon memiliki reaksi yang lebih buruk daripada pengemudi mabuk, dan lebih sering mengalami kecelakaan.

4. Radiasi Handphone Dihubungkan dengan Penyakit Alzheimer

Sebuah penelitian dari Journal of the American Medical Association (JAMA), menemukan bahwa memegang ponsel aktif di sebelah kepala anda selama kurang dari satu jam dapat merubah metabolisme glukosa otak.

Dan ini menjadi sebuah masalah karena glukosa adalah sumber energi utama otak anda.

Saat ini ada beberapa ahli yang percaya bahwa penyakit Alzheimer adalah bentuk ketiga dari penyakit diabetes – yaitu diabetes pada otak, dimana sel-sel otak tidak lagi mampu memanfaatkan glukosa sehingga kemudian mati.

Hal lainnya yang membuat radiasi ponsel dihubungkan dengan Alzheimer adalah karena radiasi dari telepon seluler dapat meningkatkan fragmen protein yang disebut dengan beta-amyloid. Protein ini lengket dan menggumpal, sehingga akan membentuk plak di antara sel-sel saraf.

Diantara beberapa faktor resiko, plak beta-amyloid ini merupakan faktor penyebab utama penyakit Alzheimer.

Namun begitu, hal bertentangan yang cukup mengejutkan juga ditemukan pada sebuah penelitian yang diterbitkan di situs National Geographic. Dalam penelitian tersebut, radiasi telepon seluler diketahui dapat mencegah terjadinya penumpukan plak pada otak. Setidaknya pada otak tikus – sebagai hewan yang digunakan sebagai objek penelitian.

Ini mungkin akan membuat penelitian berkembang ke arah baru, namun tetap saja saya tidak merekomendasikan anda untuk mencobanya ke diri sendiri ataupun orang-orang yang anda sayangi.

5. Ponsel Menyebabkan Gangguan Tidur

Diperkirakan ada sekitar 65% orang yang tidur dengan ponsel mereka. Dan angka ini meningkat menjadi 90% pada mereka yang berusia antara 18 sampai 29 tahun.

Sudah ada puluhan studi yang menyatakan bahwa radiasi ponsel – walau dalam tingkat rendah sekalipun, tetap akan mengganggu produksi melatonin pada tubuh. Terganggunya produksi melatonin tentu akan membuat tingkat kelelapan tidur anda menjadi berkurang.

Padahal anda sudah mengetahui bahwa tidur adalah salah satu pilar terpenting bagi kesehatan dan kebugaran otak. Karena hanya pada saat anda sedang tertidurlah otak akan membersihkan racun dan kotoran metabolisme, memperbaiki sel-sel otak, serta memproduksi sel-sel baru yang sehat.

Dan pada saat tertidur pula otak anda akan menyimpan serta memetakan memori yang telah direkam sepanjang hari.

Pemakaian alat elektronik di malam hari, termasuk ponsel – adalah salah satu alasan meningkatnya jumlah orang yang menderita insomnia dan gangguan tidur.

Para peneliti telah menemukan korelasi antara pemakaian ponsel yang tinggi dengan insomnia, stres, dan depresi. Hal ini umumnya dialami oleh anak-anak muda (mereka yang baru beranjak dewasa).

6. Telepon Seluler Berkontribusi Pada Gangguan Tiroid

Radiasi ponsel diketahui dapat mempengaruhi struktur dan fungsi tiroid.

Penggunaan telepon seluler meningkatkan kadar hormon stimulasi tiroid (TSH), yang secara langsung dihubungkan dengan sebuah kondisi yang disebut tiroid rendah (hipotiroidisme).

Beberapa gejala umum pada otak yang berhubungan dengan hipotiroidisme antara lain: hilangnya memori, rasa depresi, kabut otak, susah fokus dan konsentrasi, kelelahan, dan sulit membuat keputusan.

Sedangkan gejala lainnya termasuk di antaranya: sensitif terhadap dingin, kulit kering, konstipasi, naiknya berat badan, dan nyeri otot.

Semoga artikel ini cukup mencerahkan. Silahkan tinggalkan komentar atau pertanyaan jika anda memilikinya.



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Selasa, November 24, 2015

Gambar Ini Dapat Menipu Otak: Anda Akan Melihatnya Berwarna


Persepsi adalah hal yang dapat berubah-ubah. Sebaik apapun indera tubuh kita dalam menjaga keberlangsungan hidup kita, tetap – mereka dapat menyesatkan dan menipu kita.

Berikut ini adalah contoh menarik yang dapat anda coba sendiri di rumah – seperti yang ditampilkan dalam 4 seri terbaru dari BBC, Colour: The Spectrum of Science.

gambar ini akan berubah menjadi berwarna

Coba nanti anda lihat video di bawah, ikuti instruksinya – dan anda akan mendapati gambar hitam-putih tersebut akan berubah menjadi gambar pemandangan yang penuh warna.

Semua hal ini berkaitan dengan sel kerucut kita, yaitu salah satu dari 2 jenis fotoreseptor yang terdapat dalam retina mata – dimana fungsinya adalah untuk menangkap warna.



Lihat Gambar Ini Berubah Menjadi Full Colour


Kita memiliki tiga jenis sel kerucut – dimana masing-masingnya sensitif terhadap panjang gelombang cahaya warna biru, hijau, dan merah. Ketika kita terpapar dengan satu warna, sel kerucut terkait warna tersebut akan terstimulasi secara berlebihan dan menjadi ‘lelah’ serta tidak responsif.

Hal ini akan membuat anda untuk sementara hanya dapat menggunakan dua jenis sel kerucut lainnya, yang akan menunjukkan lawan dari warna ‘pelengkap’ (contoh: merah vs hijau dan biru vs kuning).

Setelah beberapa detik, sel kerucut yang ‘lelah’ tadi akan kembali ‘segar’, dan anda akan mampu melihat warna itu lagi.

Klik video di bawah ini untuk membuktikannya:




Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Selasa, November 03, 2015

Otak Kanan dan Otak Kiri: Apa Fungsi Sebenarnya?


Pernahkah anda mendengar ada orang yang mengatakan jika dirinya lebih cenderung sebagai orang yang memakai otak kanan ataupun otak kiri?

Saya yakin anda sudah berkali-kali mendengar tentang hal di atas, baik melalui program televisi maupun radio – atau mungkin membacanya di berbagai buku, majalah, maupun media online.

Khususnya media online, saya yakin sebagian dari anda juga pasti sudah pernah melakukan test online untuk mengetahui apakah diri anda ber-otak kanan atau ber-otak kiri.

Mengingat begitu populernya mengenai ‘gagasan’ ini di masyarakat, mungkin apa yang akan saya sampaikan dalam artikel kali ini akan terasa sedikit mengejutkan.

Namun ini adalah faktanya:
‘Ide’ mengenai mayoritas orang terbagi menjadi dominan otak kanan ataupun otak kiri tidak lebih hanyalah salah satu dari banyaknya mitos umum tentang otak manusia.

fungsi otak kiri dan otak kanan

Apa Itu Teori Otak Kanan – Otak Kiri?


Berdasarkan teori dominasi otak kiri atau otak kanan, dikatakan bahwa setiap sisi otak mengontrol tipe cara berpikir yang berbeda. Lebih lanjut, dikatakan jika setiap orang cenderung lebih menyukai satu jenis cara berpikir dibandingkan cara berpikir lainnya.

Sebagai contoh:

  • Orang yang ber-otak kiri dikatakan lebih logis, analitis, dan objektif – sedangkan orang yang ber-otak kanan dikatakan cenderung lebih intuitif, bijaksana, dan subjektif.

Dalam ilmu psikologi, teori ini didasarkan pada apa yang dikenal sebagai lateralisasi fungsi otak.

Lalu apakah benar salah satu sisi otak mengontrol fungsi tertentu? Apakah benar orang-orang terbagi menjadi  yang ber-otak kiri atau otak kanan?

Seperti halnya yang terjadi pada banyak mitos psikologi populer, hal ini sebenarnya juga diawali dari pengamatan (penelitian) tentang otak manusia – yang kemudian menjadi menyimpang secara dramatis dan berlebihan.

Teori mengenai otak kanan – otak kiri aslinya adalah karya dari Roger W. Sperry (penerima Hadiah Nobel pada tahun 1981).

pencetus teori otak kanan dan otak kiri

Saat sedang mempelajari efek dari epilepsi, Sperry menemukan bahwa pemotongan corpus callosum (struktur yang menghubungkan dua belahan otak) bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan kejang yang biasa dialami oleh penderita.

Tapi ini juga bukan tanpa resiko, karena pasien-pasien yang menjalani prosedur tersebut ternyata mengalami gejala lain setelah jalur komunikasi antara kedua sisi otak tersebut dipotong.

Sebagai contoh:

  • Banyak pasien – dengan otak yang telah ‘terbagi’ tersebut – tidak mampu menyebutkan nama objek yang diproses oleh sisi otak bagian kanan, tapi mereka mampu menyebutkan nama objek yang diproses oleh sisi otak bagian kiri.

Berdasarkan informasi ini Sperry lalu menyimpulkan bahwa kemampuan berbahasa dikendalikan oleh sisi otak kiri.

Namun kemudian penelitian lanjutan telah menunjukkan bahwa otak tidaklah seperti apa yang telah dipercayai oleh ilmuwan sejak dulu.

Sebagai contoh:

  • Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa kemampuan tertentu – seperti mata pelajaran matematika – justru paling kuat saat kedua bagian otak bekerja sama.

Saat ini para ahli syaraf telah mengetahui bahwa kedua sisi otak saling bekerja sama untuk melakukan berbagai tugas, dan kedua belahan otak tersebut berkomunikasi melalui corpus collosum.

Carl Zimmer, (dalam sebuah artikel yang dimuat Discover Magazine)
"Tidak peduli seberapa lateralnya otak kita, tetap dua belah sisi masih bekerja secara bersama-sama.

Gagasan psikologi populer mengenai otak kiri dan otak kanan tidak menangkap hubungan kerjasama intim mereka.

Misalnya – hemisfer kiri mengkhususkan diri dalam memilih suara yang membentuk kata-kata dan memproses sintaks dari kata-kata, namun tidak memiliki kemampuan mutlak untuk mengolah bahasa.

Hemisfer kanan-lah yang sebenarnya lebih sensitif terhadap fitur emosional berbahasa, pengaturan untuk irama lambat saat berbicara yang membawa intonasi dan penekanan kata."
Dalam salah satu penelitian di University of Utah, lebih dari 1.000 orang dianalisis otaknya – untuk mengukur apakah mereka cenderung menggunakan salah satu sisi otak dibanding sisi yang lainnya.

Dan studi tersebut mengungkap bahwa walaupun kadang-kadang aktifitas lebih tinggi terjadi pada beberapa area penting, namun secara rata-rata – kedua sisi otak seimbang dalam menjalankan aktifitas mereka.

Dr.Jeff Anderson, pimpinan penelitian:
"Memang benar bahwa beberapa fungsi otak terjadi pada salah satu sisi otak atau sisi lainnya. Bahasa cenderung di sebelah kiri, perhatian lebih banyak di sebelah kanan. Namun itu tidak lantas membuat seseorang cenderung memiliki jaringan otak kiri atau otak kanan yang lebih kuat. Sepertinya itu lebih ditentukan oleh koneksi demi koneksi yang terjadi,”
Dan walaupun ide mengenai dominasi otak kanan / otak kiri telah berhasil dibantah secara ilmiah, namun popularitasnya ternyata masih terus berlanjut.



Seperti Apa Sebenarnya Teori Otak Kanan dan Otak Kiri Ini?


perbedaan fungsi otak kanan dengan fungsi otak kiri

Otak Kanan

Menurut teori dominasi otak kiri atau otak kanan, orang yang dominan otak kanan dikatakan sangat mahir untuk hal-hal yang bersifat ekspresif dan kreatif. Beberapa kemampuan yang populer dikaitkan dengan fungsi otak kanan meliputi:

  • Mengenali wajah
  • Mengekspresikan emosi
  • Musik
  • Membaca emosi
  • Warna
  • Gambar
  • Intuisi
  • Kreativitas

Otak Kiri

Sedangkan orang yang dominan otak kiri dikatakan mahir dalam pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan logika, bahasa, dan pemikiran analitis. Orang yang ber-otak kiri sering digambarkan lebih baik dalam:

  • Bahasa
  • Logika
  • Berpikir kritis
  • Angka
  • Penalaran

Mengapa orang-orang masih berbicara tentang teori otak kanan dan otak kiri?

Seperti telah dijelaskan di atas, para peneliti telah berhasil membuktikan bahwa teori  otak kiri / kanan hanyalah sebuah mitos. Namun tetap saja popularitasnya terus berlanjut. Mengapa?

Sayangnya banyak orang yang tidak menyadarinya jika teori tersebut telah ketinggalan jaman. Saat ini, para siswa seharusnya memang terus mempelajari teori tersebut sebagai titik penting dalam sejarah – untuk memahami bagaimana pemahaman kita tentang cara kerja otak telah berkembang dan berubah dari waktu ke waktu. Dan ini semua terjadi karena para peneliti terus mempelajari secara lebih dalam tentang bagaimana cara otak kita beroperasi.

Dan walaupun psikologi populer serta teks book pribadi terbukti terlalu memukul rata dan melebih-lebihkan hal di atas, memahami kekuatan serta kelemahan anda pada area-area otak tertentu juga dapat membantu anda mengembangkan cara tertentu dalam belajar.

Sebagai contoh:

  • Jika anda merasa mengalami kesulitan dalam mengikuti instruksi secara lisan (biasanya diasosiasikan sebagai orang ber-otak kanan), maka mungkin akan sangat bermanfaat jika anda mencatat semua instruksi yang diberikan – atau anda mengembangkan kemampuan anda dalam berorganisasi.

Penting untuk diingat!

Jika anda pernah / sering mengikuti tes maupun kuis mengenai otak kiri atau otak kanan (banyak ditemui di media online) – maka jadikan itu hanya sebagai sarana senang-senang saja. Jangan pernah menjadikan hasil yang anda peroleh dari tes tersebut sebagai patokan mengenai diri anda.

Semoga bermanfaat! Jangan sungkan untuk meninggalkan komentar jika anda memilikinya.

Referensi:



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Rabu, April 08, 2015

Apa Besar Otak Manusia Berpengaruh Terhadap Tingkat Kecerdasan?


“Sebesar apa sih otak kita?”

Mungkin anda pernah bertanya seperti itu. Otak adalah organ terpenting sekaligus yang paling misterius pada tubuh kita. Hingga saat ini para ilmuwan masih terus mempelajarinya, dan tidak pernah berhenti dibuat kagum dengan setiap temuan-temuan baru.

Bagi anda yang belum menyadari betapa vitalnya organ ini, saya akan memberikan penjelasan sederhana:
Anda tidak akan dapat berjalan – berbicara – bergerak – dan melakukan semua aktifitas yang selama ini anda lakukan jika otak anda tidak bekerja dengan baik.
Semua dikendalikan oleh otak anda, bahkan denyut jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh hingga kontraksi otot-otot pada paru-paru yang membuat anda dapat bernafas, itu semua atas perintah otak anda.

ukuran besar otak manusia

Otak memang sangat menakjubkan, mampu menyimpan memori yang luar biasa banyak, sangat rentan terhadap kerusakan, namun juga sangat mudah beradaptasi dengan perubahan.

Secara struktur, otak manusia tidak jauh berbeda dengan hewan mamalia lainnya. Yang membuatnya berbeda adalah ukurannya - jika dikaitkan dengan ukuran tubuh. Jika diadu berdasarkan proporsi tubuh, maka secara umum otak manusia jauh lebih besar daripada hewan mamalia lainnya (walau tidak semua).

Ukuran Otak Manusia


  • Berdasarkan beratnya, otak manusia dewasa memiliki berat antara 1300 – 1400 gram, atau rata-rata 1,36 kg.
  • Berdasarkan panjangnya, otak manusia dewasa rata-rata memiliki panjang sekitar 15 cm.
  • Sebagai perbandingan, otak bayi yang baru lahir rata-rata memiliki berat sekitar 350 – 400 gram.
  • Pria cenderung memiliki otak yang lebih besar daripada wanita. Dengan membandingkan berat tubuh secara keseluruhan, otak pria umumnya sekitar 100 gram lebih besar daripada otak wanita.
  • Pada wanita, bagian dari lobus frontal dan korteks limbik (yaitu area otak yang terkait dengan pemecahan masalah dan pengaturan emosional) cenderung lebih besar daripada pria.
  • Pada pria, bagian korteks parietalis (terkait dengan persepsi ruang) dan amigdala (terkait dengan perilaku sosial dan seksual) cenderung lebih besar daripada wanita.
  • Neuron adalah jaringan-jaringan yang berfungsi sebagai blok bangunan pada otak dan sistem saraf. Mereka mengirim dan membawa informasi, memungkinkan berbagai bagian otak dapat berkomunikasi satu sama lain, serta memungkinkan otak untuk berkomunikasi dengan berbagai bagian lain pada tubuh kita. Peneliti telah berhasil mengetahui jika setidaknya terdapat sekitar 86 milyar neuron pada otak kita.



Apakah Ukuran Otak itu Penting?


Tidak semua orang memiliki ukuran otak yang sama persis, itu sudah jelas. Beberapa lebih besar, dan sebagian lainnya lebih kecil. Anda mungkin pernah bertanya-tanya mengenai apakah ukuran otak terkait dengan karakteristik seperti disabilitas atau tingkat kecerdasan.

Jawabannya, para peneliti telah menemukan bahwa dalam beberapa kasus – ukuran otak dapat dikaitkan dengan perkembangan beberapa penyakit dan kondisi mental tertentu.

Contohnya:

  • Anak-anak penderita autis, mereka cenderung memiliki otak yang lebih besar dan pertumbuhan otak dini yang tidak proporsional jika dibandingkan dengan anak-anak non-autis.
  • Bagi mereka yang menderita penyakit alzheimer, ukuran hippocampus (area otak yang sangat terkait dengan memori) cenderung lebih kecil.

apa ukuran besar otak manusia berhubungan dengan tingkat kecerdasan

Bagaimana dengan tingkat kecerdasan?

Untuk pertanyaan ini, jawabannya sangatlah bervariasi dan tergantung kepada siapa anda bertanya. Berdasarkan sebuah penelitian skala besar yang dipimpin oleh Michael McDaniel dari Virginia Commonwealth University, otak yang lebih besar dikatakan berkorelasi dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi.

Namun tidak semua ilmuwan setuju dengan kesimpulan dari McDaniel tersebut. Penelitian itu juga menyisakan beberapa pertanyaan penting yang belum terjawab, seperti – bagaimana cara kita mendefinisikan dan mengukur kecerdasan? Apakah kita harus mempertimbangkan ukuran relatif tubuh ketika membuat korelasi tersebut? Dan bagian mana dari otak kita yang harus diteliti?

Hal lain yang juga penting untuk dicatat adalah, ketika membandingkan perbedaan antara satu orang dengan sekumpulan orang-orang lainnya, maka variasi ukuran otak menjadi relatif kecil sekali.

Belum lagi berbagai faktor tambahan yang juga mempengaruhi atau memiliki peran penting, seperti – kepadatan neuron di otak, faktor sosial dan budaya, dan perbedaan struktural lainnya dalam otak masing-masing individu.

Jadi mungkin saya dapat menyimpulkan jika ukuran otak tidak terlalu berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan seseorang.

Bagaimana dengan pendapat anda? Atau anda mungkin memiliki pertanyaan serta tambahan informasi yang berguna terkait postingan diatas. Silahkan tuliskan dalam kolom komentar dibawah, saya pasti akan menanggapi. Salam.

Referensi:



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Selasa, Maret 17, 2015

Apa Benar Kita Hanya Menggunakan 10% Otak Kita?


Izinkan saya untuk menyatakan ini secara tegas:
Tidak pernah ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa manusia hanya menggunakan 10% dari otaknya.
Mungkin anda penasaran, jika memang tidak pernah ada bukti ilmiah mengenai hal tersebut, lalu darimana pernyataan “penggunaan 10% otak” ini berasal? Mari kita membahasnya lebih lanjut. Saya juga akan menunjukkan bukti bahwa kita menggunakan seluruh bagian otak kita, bukan hanya sebagian kecilnya.

Darimana mitos 10% ini berasal?


Pernyataan ini mungkin berasal dari perkataan Albert Einstein yang salah dikutip atau salah tafsir dari karya Pierre Flourens yang diterbitkan pada tahun 1800-an.

pernyataan penggunaan 10% otak yang salah dikutip

Adalah William James yang menulis pada tahun 1908: "Kita hanya menggunakan sebagian kecil dari sumber daya mental dan fisik yang dimungkinkan" (dari The Energies Of Men, halaman 12).

Atau mungkin mitos ini dimulai dari studi yang dilakukan oleh Karl Lashley di tahun 1920-an hingga 1930-an. Lashley mengangkat sebagian besar area cerebral cortex pada otak tikus, dan mendapati bahwa hewan-hewan ini masih bisa mempelajari kembali tugas-tugas tertentu.

Namun saat ini kita telah mengetahui bahwa, bahkan sedikit kerusakan pada area otak manusia dapat memiliki efek buruk pada perubahan perilaku. Ini adalah salah satu alasan mengapa para ahli bedah saraf harus dengan hati-hati memetakan otak - sebelum mengangkat jaringan otak saat operasi berlangsung (baik untuk epilepsi atau penyakit kanker otak). Mereka ingin memastikan bahwa daerah penting dari otak tidak ada yang rusak.

Mengapa mitos ini terus berkembang?

Tidak diketahui secara pasti, namun seseorang entah bagaimana dan dimana telah memulai menyebarkan mitos ini, dan media-media populer ikut membantu menyebarkannya secara berulang-ulang. Dan bisa ditebak hasilnya, tidak lama kemudian semua orang percaya dengan penyataan ini, walaupun itu tanpa bukti sama sekali.

Saya belum dapat berhasil untuk melacak sumber asli dari mitos ini, namun yang jelas, saya juga belum pernah mendapati data ilmiah yang mendukung bahwa manusia hanya menggunakan 10% dari otaknya.

Orang-orang yang percaya mitos ini mengatakan jika kita menggunakan lebih banyak dari otak kita, maka kita bisa memiliki memori otak yang super dan kemampuan mental fantastis lainnya - seperti memindahkan objek hanya dengan pikiran (saya belum pernah melihat hal ini kecuali hanya dalam Film).



Bagaimana jika manusia hanya memakai 10% bagian otak saja?


Coba anda pikirkan, data apa yang mereka gunakan sehingga keluar angka 10%? Bagaimana jika 90% bagian otak kita dihilangkan, apa kita tetap akan baik-baik saja?

10% otak manusia hanya sebesar otak domba

Secara rata-rata otak manusia memiliki berat 1.400 gram, dan apabila 90% darinya diangkat, maka hanya akan menyisakan 140 gram jaringan otak. Itu kira-kira hanya seukuran otak domba!

Padahal telah dijelaskan bahwa sedikit saja kerusakan pada bagian otak, contohnya akibat stroke, ini bisa mengakibatkan kecacatan yang cukup parah. Atau seperti penyakit Parkinson – yang merupakan gangguan neurologis tertentu, ini juga hanya terjadi pada area kecil pada otak.

Sekarang bayangkan jika 90% otak anda rusak atau dihilangkan, hal buruk seperti apa yang akan anda alami?

Bukti-Bukti atau Kurangnya Bukti

Mungkin saat orang-orang mengeluarkan pernyataan penggunaan 10% otak, maksud mereka adalah bahwa hanya satu dari setiap sepuluh sel-sel saraf penting yang digunakan dalam satu waktu.

Namun tetap saja, bagaimana cara mereka mengetahuinya, bagaimana cara mengukurnya? Karena walaupun beberapa neuron tidak melakukan kegiatan berarti, mereka tetap menerima sinyal dari neuron lainnya.

benarkah manusia hanya memakai 10% otaknya

Jika dilihat dari sudut pandang evolusi, maka tidak mungkin otak akan berkembang menjadi lebih besar jika tidak memiliki keuntungan tertentu. Dan memang benar bahwa terdapat beberapa jalur yang bekerja untuk fungsi tubuh yang sama.

Contohnya seperti terdapat beberapa jalur utama yang digunakan untuk penglihatan kita. Konsep yang disebut dengan "redundancy" ini ditemukan di seluruh sistem saraf pada tubuh kita. Berbagai jalur untuk fungsi tubuh yang sama ini mungkin sebuah asuransi mekanisme keamanan jika terjadi kegagalan pada salah satu jalur.

Lebih lanjut, penelitian dengan pencitraan fungsional otak menunjukkan bahwa semua bagian pada otak kita berfungsi. Bahkan otak tetap aktif selama kita tidur. Jadi otak masih tetap "digunakan" saat kita tidur, hanya saja dalam keadaan aktif yang berbeda.

Jadi lain kali saat anda mendengar seseorang mengatakan bahwa mayoritas atau semua manusia hanya menggunakan 10% otaknya, anda bisa mengatakan secara tegas kepada mereka:
Tidak, anda salah! Kita menggunakan 100% dari otak kita.

Referensi :




Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Rabu, Maret 11, 2015

Otak Manusia: Mitos Umum Yang Harus Diketahui


Otak manusia memang menakjubkan dan terkadang sangat misterius. Namun walaupun para peneliti masih terus mempelajari rahasia dari cara kerja otak, mereka telah berhasil mengungkap banyak informasi mengenai apa yang terjadi di dalam otak anda. Dan faktanya, apa yang telah anda ketahui selama ini ternyata kebanyakan hanyalah MITOS dan tidak terbukti secara ilmiah.

Berikut ini beberapa hal umum mengenai otak manusia yang terbukti hanya mitos:

1. Manusia Hanya Menggunakan 10% Dari Otak Mereka


Anda mungkin pernah mendengar hal ini beberapa kali, terutama dalam Film atau dari seorang Pesulap (note: saya yakin anda tahu siapa pesulap di Indonesia yang sering mengatakan hal tersebut).

mitos otak manusia hanya terpakai 10 persen saja

Orang-orang sering menggunakan mitos populer ini untuk menyiratkan bahwa pikiran manusia mampu melakukan hal-hal yang luar biasa, seperti secara dramatis meningkatkan intelegensi, memiliki kemampuan psikis, atau bahkan telekinesis.

Lagipula, jika kita bisa melakukan semua hal yang telah kita lakukan saat ini hanya dengan menggunakan 10% otak kita, bayangkan apa yang bisa kita lakukan jika dapat memakai 90% sisanya. Itulah sugesti yang ingin mereka tanamkan ke pikiran anda.

Fakta Ilmiahnya: Penelitian menunjukkan bahwa semua area otak manusia melakukan beberapa jenis fungsi yang berbeda. Jika mitos 10% itu benar, maka kemungkinan kerusakan otak akan jauh lebih sedikit, dan kita hanya perlu khawatir dengan bagian 10% (sangat kecil) dari otak kita untuk cidera.

Faktanya, bahkan hanya sedikit kerusakan pada area otak - ini sudah dapat memberikan konsekuensi yang mendalam, baik untuk kognisi maupun fungsinya. Teknologi pencitraan otak juga telah memperlihatkan bahwa seluruh bagian otak kita menunjukkan tingkat aktivitas, bahkan selama kita tidur.

Barry Gordon, Neurolog dari Johns Hopkins School of Medicine, Scientific American
"Ternyata, kita menggunakan hampir setiap bagian dari otak, dan bahkan (sebagian besar) otak hampir selalu aktif sepanjang waktu. Mari pikirkan hal ini: otak hanya mewakili 3% dari berat badan kita, namun menghabiskan 20% dari energi tubuh."

2. Kerusakan Otak Bersifat Permanen


Otak memang rapuh dan dapat mudah rusak karena beberapa hal seperti cedera, stroke, atau penyakit tertentu. Kerusakan ini bisa menimbulkan berbagai konsekuensi, mulai dari gangguan ringan dalam hal kemampuan kognitif – hingga dalam menyelesaikan pekerjaan/tugas. Kerusakan otak memang dapat bersifat sangat parah, namun apakah itu selalu bersifat permanen?

Fakta Ilmiahnya: Walaupun seringkali kita beranggapan jika cedera otak tidak dapat disembuhkan, namun sebenarnya kemampuan seseorang untuk pulih dari kerusakan otak tergantung pada tingkat keparahan dan lokasi dari cederanya.

Contohnya pukulan di kepala yang menyebabkan terjadinya gegar otak, walau hal ini dapat menjadi serius, namun kebanyakan orang mampu untuk pulih, dan yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk menyembuhkannya. Berbeda dengan stroke berat, yang memang dapat mengakibatkan konsekuensi sangat buruk pada otak dan cenderung bersifat permanen.

Namun penting untuk diingat bahwa otak manusia memiliki jumlah plastisitas yang sangat luar biasa. Bahkan setelah mengalami cedera yang serius, seperti akibat stroke – otak manusia seringkali dapat menyembuhkan dirinya sendiri seiring waktu dengan membentuk sambungan-sambungan baru.

BrainFacts.org
"Bahkan setelah otak mengalami cedera yang lebih serius, seperti akibat stroke, penelitian menunjukkan bahwa – dengan bantuan terapi – otak mungkin mampu mengembangkan koneksi-koneksi baru dan ‘mengalihkan’ fungsi sebelumnya melalui area otak yang sehat."

3. Manusia Terbagi Menjadi Dominan "Otak Kanan" atau "Otak Kiri"


Pernahkah anda mendengar seseorang yang menggambarkan dirinya lebih dominan ber-otak kiri atau ber-otak kanan? Saya yakin pasti pernah. Hal ini berasal dari ‘gagasan’ populer bahwa setiap orang didominasi oleh belahan otak kanan ataupun otak kiri mereka.

mitos otak manusia terbagi dominan otak kanan dan kiri

Berdasarkan ‘ide’ tersebut, orang-orang yang "ber-otak kanan" cenderung lebih kreatif dan ekspresif, sedangkan orang-orang yang "ber-otak kiri" cenderung lebih analitis dan berpikiran logis.

Fakta Ilmiahnya: Walaupun para ahli mengakui bahwa memang ada pembagian fungsi otak (yaitu, beberapa jenis tugas dan pola berpikir memang cenderung lebih berhubungan pada daerah tertentu pada otak), namun tidak ada seorangpun yang sepenuhnya ber-otak kanan ataupun ber-otak kiri.

Faktanya, kita justru akan mengerjakan suatu pekerjaan dengan lebih baik saat seluruh bagian otak kita digunakan. Walaupun itu untuk hal-hal yang biasanya dihubungkan dengan kemampuan pada bagian otak tertentu.

Carl Zimmer, Discover
"Tidak peduli seperti apa pembagian fungsi otak bisa diketahui, tetap, kedua bagian otak selalu bekerja secara bersama-sama. Gagasan psikologi populer mengenai otak kanan dan otak kiri tidak mencakup bagaimana hubungan kerja yang sangat erat antara kedua bagian otak tersebut."

"Sebagai contoh, hemisfer kiri memiliki spesialisasi dalam memilih suara yang membentuk kata-kata dan menentukan sintaks dari kata-kata, tetapi tidak memiliki monopoli pada pengolahan bahasa. Sedangkan hemisfer kanan justru lebih sensitif terhadap fitur emosional bahasa, mengatur irama saat berbicara yang menentukan intonasi dan ketegangan."



4. Otak Manusia Adalah Yang Terbesar


Otak manusia memang cukup besar berdasarkan proporsi ukuran tubuh, namun ini berbeda dengan kesalahpahaman umum yang mengatakan bahwa manusia memiliki ukuran otak terbesar dibandingkan organisme lainnya. Lalu seberapa besar otak manusia? Bagaimana cara membadingkannya dengan spesies lain?

mitos otak manusia adalah yang paling besar

Fakta Ilmiahnya: Rata-rata setiap orang dewasa memiliki berat otak sekitar 1,37 kg dengan panjang sekitar 15 cm. Otak hewan terbesar dimiliki oleh Paus Sperma, yang beratnya hingga diatas 8 kg! Hewan lainnya yang juga memiliki otak besar adalah gajah, dengan ukuran otak rata-rata sekitar 5 kg.

Lalu bagaimana jika mengukur otak berdasarkan proporsi tubuh? Manusia pasti memiliki otak yang paling besar jika berdasarkan proporsi tubuh bukan? Sayangnya, sekali lagi, apa yang pernah anda dengar itu adalah sebuah mitos.

Satu hewan yang memegang rekor ukuran otak terbesar berdasarkan rasio tubuh adalah Shrew (tikus celurut), dengan ukuran otak hingga 10% dari keseluruhan massa tubuhnya.

5. Kita Dilahirkan Dengan Sel-Sel Otak Yang Lengkap, Jika Ada Yang Mati, Maka Mereka Hilang Selamanya


Kepercayaan kuno mengatakan bahwa semua orang dewasa sudah memiliki sangat banyak sel otak, sehingga otak tidak pernah beregenerasi (membentuk sel otak baru). Jika ada beberapa sel otak kita yang mati, maka mereka akan hilang selamanya. Apakah itu memang benar adanya?

Fakta Ilmiahnya: Dalam beberapa tahun terakhir ini para ahli telah menemukan bukti bahwa otak manusia ternyata membentuk sel-sel baru sepanjang hidup, bahkan setelah menginjak usia tua. Proses pembentukan sel-sel otak baru tersebut dikenal dengan neurogenesis, dan para peneliti telah menemukan bahwa hal itu terjadi setidaknya pada satu daerah otak yang disebut dengan hipokampus.

Dan Cossins, The Scientist
"Tes bom nuklir di atas tanah yang dilakukan lebih dari 50 tahun yang lalu mengakibatkan peningkatan kadar isotop radioaktif karbon-14 (14C) pada atmosfir, yang terus menurun dari waktu ke waktu."

"Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada Cell, peneliti menggunakan pengukuran konsentrasi 14C dalam DNA sel-sel otak dari pasien yang telah meninggal untuk menentukan umur neuron, dan hasilnya menunjukkan bahwa ada neurogenesis dewasa yang substansial dalam hipokampus manusia."

6. Minum Alkohol Bisa Mematikan Sel-Sel Otak


Masih terkait dengan mitos bahwa otak kita tidak pernah menumbuhkan neuron baru, ada pernyataan yang mengatakan bahwa minum alkohol dapat menyebabkan kematian pada sel di otak. Banyak orang mengatakan bahwa, “Jika kamu minum alkohol dalam jumlah banyak atau terlalu sering, maka sel-sel berharga di otakmu akan mati, dan itu tidak akan pernah bisa kembali lagi”.

Anda telah mengetahui faktanya bahwa sel-sel otak baru akan selalu dibangun sepanjang kita hidup. Pertanyaanya sekarang, apakah benar alkohol dapat mematikan sel-sel di otak kita?

Fakta Ilmiahnya: Bukan berarti anda boleh dan tidak masalah menjadi seorang alkoholik, karena faktanya penyalahgunaan alkohol yang kronis atau berlebihan memang memiliki dampak kesehatan yang sangat mengerikan.

Namun para ahli tidak percaya bahwa minum alkohol bisa menyebabkan kematian pada neuron. Dan penelitian telah menunjukkan bahwa, bahkan seorang peminum beratpun tidak akan membunuh neuron di otaknya.

7. Terdapat 100 Miliar Neuron di Otak Manusia


Jika anda sudah pernah membaca beberapa buku tentang psikologi atau neuroscience, anda mungkin telah membaca tulisan yang mengatakan bahwa otak manusia memiliki sekitar 100 miliar neuron.

Seberapa akuratkah angka yang sering disebutkan secara berulang-ulang tersebut? Berapa banyak sebenarnya neuron pada otak kita?

mitos otak manusia memiliki jumlah neuron hingga 100 milyar

Fakta Ilmiahnya: Perkiraan jumlah 100 miliar neuron pada otak manusia telah begitu sering disebutkan dalam berbagai tulisan dan telah dilakukan sejak lama, karena itu tidak ada yang yakin darimana pernyataan itu berasal.

Namun pada tahun 2009, seorang peneliti memutuskan untuk benar-benar menghitung jumlah neuron pada otak orang dewasa, dan menemukan bahwa jumlah sebenarnya sedikit lebih rendah dari yang disebutkan.

Berdasarkan penelitian tersebut, diketahui bahwa otak manusia mengandung sekitar 85 miliar neuron. Jadi angka yang sering digunakan dalam berbagai kutipan selama ini diketahui belasan miliar lebih tinggi dari yang sebenarnya, dan itu adalah jumlah selisih yang cukup banyak untuk bisa dijadikan sebagai acuan ilmiah.

Dr.Suzana Herculano, Houzel
"Kami menemukan bahwa rata-rata otak manusia memiliki sekitar 86 miliar neuron. Dan tidak ada satupun otak yang kami teliti (hingga saat ini) yang mendekati angka 100 milyar. Walaupun mungkin sepertinya perbedaannya kecil, namun 14 – 15 miliar neuron adalah jumlah yang cukup banyak seperti jumlah neuron pada otak babon, atau hampir setengah dari jumlah neuron pada otak gorila. Jadi sebenarnya itu perbedaan yang cukup besar."

Mudah-mudahan dengan artikel ini, sekarang anda menjadi lebih paham mengenai mana yang fakta dan mana yang hanya mitos seputar otak manusia.

Sumber :



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...