Tampilkan postingan dengan label Info Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Menarik. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 27, 2016

Data Penelitian: Obat Alergi dan Flu Umum Dapat Menyebabkan Alzheimer

Saat sedang berjuang melawan virus (flu) – mengkonsumsi obat adalah langkah yang dapat membuat tubuh kita merasa sedikit lebih nyaman. Begitupula bagi mereka yang menderita alergi, obat-obatan seperti Benadryl bertindak layaknya ‘dewa penolong’ yang akan langsung menghilangkan masalah secara tuntas.

Namun saat ini sepertinya anda harus berpikir lebih panjang sebelum memutuskan untuk sering-sering mengkonsumsi obat flu dan alergi yang umum dijual – terutama jika anda telah melewati usia paruh baya.

Shannon Risacher

penelitian keterkaitan obat flu dan alergi dengan penyakit alzheimer

Para peneliti dari Indiana University School of Medicine menemukan bukti bahwa obat-obatan yang memiliki efek “antikolonergik” kuat dikatakan dapat menyusutkan otak dan menurunkan metabolismenya. Hasil temuan ini sudah resmi diterbitkan dalam sebuah jurnal di JAMA Neurology.

Sebenarnya ini juga bukanlah temuan baru, karena penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara obat antikolinergik dengan gangguan kognitif pada orang-orang yang berusia (sangat) dewasa.

Sebuah studi pada tahun 2013 menyimpulkan, bahwa hanya dengan mengkonsumsi salah satu dari obat-obatan tersebut dalam dua bulan – itu akan menyebabkan masalah memori pada mereka yang berusia tua.


Data Hubungan Obat Flu dan Alergi Dengan Penyakit Alzheimer


Paper akademis terbaru yang dilaporkan oleh Indiana University ini diyakini sebagai yang pertama dalam mempelajari potensi biologi yang mendasari keterkaitan klinis tersebut menggunakan pengukuran neuroimaging metabolisme otak dan atrofi.

"Temuan ini memberikan kita pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kelompok obat-obatan ini dapat bekerja pada otak dengan cara yang mungkin meningkatkan resiko gangguan kognitif dan demensia," kata Shannon Risacher, asisten profesor ilmu radiologi dan pencitraan di Indiana University School of Medicine – yang sekaligus penulis utama dalam studi tersebut.

"Dengan melihat semua bukti penelitian ini, para dokter mungkin harus mempertimbangkan alternatif lain untuk obat antikolinergik jika tersedia saat menangani pasien mereka yang berusia lebih tua."

"Saya pasti tidak akan menyarankan kakek saya atau bahkan orang tua saya untuk mengkonsumsi obat-obatan tersebut kecuali memang terpaksa," tambah Risacher.


Berdasarkan laporan dari Indiana University, para partisipan penelitian yang mengkonsumsi obat-obatan antikolinergik memiliki tingkat metabolisme glukosa lebih rendah – yang mana ini merupakan "biomarker" yang menunjukkan aktivitas otak dan penyakit Alzheimer.

Mereka juga menunjukkan hasil yang lebih buruk pada tes memori jangka pendek dan beberapa fungsi eksekutif (meliputi berbagai kegiatan seperti penalaran verbal, perencanaan dan pemecahan masalah) – jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mengkonsumsi obat-obatan tersebut.

Dari 451 partisipan yang semuanya berusia antara 70 hingga 75 tahun, mereka yang menggunakan obat antikolinergik diketahui mengalami “pengurangan volume otak” saat dilihat menggunakan scan MRI.

Dr. Risacher mengatakan bahwa hasil ini memberikan "petunjuk" dampak biologis dari obat-obatan tersebut pada otak. Namun dia juga menambahkan bahwa, "penelitian lanjutan masih diperlukan jika kita benar-benar ingin memahami mekanisme apa saja yang terlibat."

Referensi :



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Rabu, April 20, 2016

French Fries McDonald's Dikaitkan Dengan Kerusakan Otak, Penyakit Autoimun, dan Kanker

Sebuah uraian terbaru dari proses pembuatan french fries McDonald's mengungkapkan sejumlah bahan yang digunakan di dalamnya telah dikaitkan dengan kerusakan otak, gangguan autoimun, kanker, dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

Apakah anda tahu apa saja yang ada dalam kentang goreng McDonald's kesukaan anda?

bahan-bahan berbahaya dalam kentang goreng McDonald's

Grant Imahara – pemilik Myth Busters memutuskan untuk mencari tahu.

Dia langsung pergi ke pabrik pengolahan McDonald's, dimana dia merasa cukup lega saat mengetahui bahwa makanan cepat saji yang banyak disukai itu memang benar-benar berasal dari kentang.

Namun begitu, beberapa bahan-bahan lainnya sedikit banyak memunculkan rasa kekhawatiran. Seperti di antaranya adalah Dimethylpolysiloxane (dimetil) – yaitu bentuk senyawa silikon yang biasanya ditemukan pada perekat (penambal) tangki akuarium, kondisioner rambut, dan dempul.

Tertiary Butylhydroquinone (TBHQ) – bahan kimia berbasis bensin yang biasanya ditemukan dalam parfum dan bio-diesel. Dan minyak kedelai terhidrogenasi – yang merupakan bentuk dari lemak trans.

Secara umum kentang goreng McDonald's terbuat dari:

  • Kentang
  • Minyak canola
  • Minyak kedelai
  • Minyak kedelai terhidrogenasi
  • Perasa daging sapi alami
  • Gandum terhidrolisa
  • Susu terhidrolisa
  • Asam sitrun
  • Dimetil
  • Dekstrosa
  • Asam sodium pirofosfat
  • Garam
  • Minyak terhidrogenasi
  • TBHQ (Butylhydroquinone Tertiary)


Bahan Berbahaya Dalam Kentang Goreng McDonald's


Dimentil (dimethylpolysiloxane)

Menurut Vanni Hari (Food Babe), dimetil adalah bahan kimia yang dalam beberapa kasus – bahkan mengandung formalin, yaitu zat kimia (sangat) beracun yang dikaitkan dengan kerusakan otak, kanker, alergi, dan gangguan auto-imun.

Menarik untuk dicatat, bahwa kentang goreng McDonald's yang dijual di AS dikatakan lebih buruk daripada yang dibuat di Eropa. Vanni menulis bahwa, dibandingkan dengan yang di AS – french fries yang dijual di Inggris terbuat hanya dari beberapa bahan dasar seperti kentang, minyak sayur, dan sedikit gula serta garam.

Vanni melanjutkan, Uni Eropa benar-benar mengatur penggunaan bahan ini karena mereka sadar – jika bahan kimia buatan manusia ini tidak pernah ditujukan untuk dikonsumsi oleh manusia.

Tertiary Butylhydroquinone (TBHQ)

Walaupun pembuat TBHQ mengklaim bahwa itu adalah jenis dari fenol yang digunakan untuk menstabilkan makanan, lemak, dan minyak nabati terhadap kerusakan oksidatif (sehingga memperpanjang masa penyimpanannya), bahan ini juga ditemukan dalam banyak hal – mulai dari parfum, biodiesel, pernis, lak, resin, dan aditif ladang minyak.

Minyak Kedelai Terhidrogenasi

Yang terakhir, minyak kedelai terhidrogenasi – yang sering juga disebut sebagai "Silent Killer."

Seperti TBHQ, minyak ini juga sering digunakan dalam industri makanan untuk memperpanjang umur simpan (masa kadaluarsa).

Namun begitu, menurut laporan dari para peneliti di Harvard School of Public Health dan Brigham and Women’s Hospital di Boston – setidaknya 100.000 kematian (akibat penyakit jantung) yang terjadi setiap tahun di Amerika Serikat dapat dicegah, "jika orang-orang mengganti lemak trans dengan minyak tak jenuh ganda ataupun tunggal yang lebih sehat.”

Lalu bagaimana dengan kentang goreng McDonald's yang dijual di Asia (khususnya di Indonesia)?

Apa lebih mengarah sama dengan yang dijual di AS? Atau sama dengan yang dijual di Eropa?

Sayangnya saya tidak menemukan sumber referensi yang akurat. Namun jika anda masih ingat dengan kasus mie instant (buatan produsen terbesar) Indonesia yang dinyatakan tidak layak konsumsi di beberapa negara luar – mungkin anda bisa mereka-reka sendiri bagaimana kira-kira ‘fleksibilitas’ badan pengawas makanan kita.

Sekarang, setelah anda mengetahui semua bahan yang terdapat dalam french fries McDonald's – apa anda masih yakin menjadikannya sebagai salah satu makanan favorit anda atau anak-anak anda?

Referensi :



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Sabtu, Maret 05, 2016

Seberapa Bahayakah Radiasi Ponsel Bagi Otak Anda?

Berbagai bukti mengenai bahaya radiasi telepon seluler yang dapat mengganggu kesehatan dan fungsi otak terus saja bermunculan, terutama pada anak-anak. Untuk mengurangi resiko, beberapa langkah berikut ini layak untuk anda pertimbangkan.

Berdasarkan data terbaru dari WHO – saat ini diperkirakan ada sekitar 6,9 miliar pelanggan ponsel – hampir 1 ponsel untuk setiap orang di planet ini, dan jumlah tersebut akan terus bertambah.

bahaya radiasi telepon seluler bagi otak manusia

Jika rata-rata orang Amerika sekarang menghabiskan 162 menit pada perangkat mobile mereka setiap hari, maka anda bisa membayangkan bagaimana dengan orang Indonesia – yang termasuk sebagai salah satu pengguna ponsel tertinggi di dunia.

Hingga saat ini, kontroversi tentang resiko gangguan kesehatan dari penggunaan ponsel masih terus berlangsung. Anda mungkin sudah pernah mendengar/membaca argumen dari kedua belah pihak – bahwa ponsel benar-benar aman. Dan sebaliknya – ada juga pihak yang mengatakan bahwa ponsel dapat menyebabkan kanker otak dan banyak masalah kesehatan lainnya.

Memang memiliki telepon seluler memberikan kenyamanan tersendiri bagi kita, hal ini tidak dapat dibantah. Namun anda juga tentu perlu mengetahui kemungkinan apa saja yang akan terjadi pada otak anda akibat radiasi ponsel.

Mari kita mendalaminya lebih jauh...

Bagaimana Pengaruh Telepon Seluler Terhadap Otak


Pada dasarnya ponsel adalah radio canggih yang bekerja dengan menggunakan energi elektromagnetik – untuk mengirimkan dan menerima suara.

Tubuh kita sendiri sebenarnya selama ini selalu ‘diselimuti’ oleh lautan medan elektromagnetik (EMFs) – yang dihasilkan dari semua perangkat elektronik yang kita miliki. Namun begitu, ponsel diketahui sebagai sumber energi elektromagnetik yang paling cepat berkembang di dunia.

Dan EMFs yang dipancarkan oleh ponsel ini menjadi sangat mengkhawatirkan karena kita begitu sering menggunakannya – itupun secara langsung ditempelkan di kepala kita.

Bagi anda yang memperhatikan, mungkin anda sudah mengetahui jika semua ponsel memiliki nilai tingkat penyerapan tertentu (SAR = Specific Absorption Rate). Menurut Komisi Komunikasi Federal (FCC), SAR adalah ukuran jumlah energi frekuensi radio (RF) yang diserap oleh tubuh saat kita menggunakan ponsel.

Dan tahukah anda jika tidak ada satupun produk telepon selular yang memiliki tingkat SAR = nol? Ini artinya bahwa sebagian dari radiasi ponsel akan terserap oleh tubuh kita, menembus tengkorak dan otak kita.

Berikut adalah sedikit kutipan dari salah satu laporan mengenai efek samping induksi EMF dari radiasi telepon seluler:
Ponsel dan WiFi bukanlah satu-satunya sumber EMFs. Yang mengejutkannya, ternyata peralatan rumah berkabel lainnya seperti kulkas anda, pengering rambut, vacuum cleaner, dan blender juga merupakn sumber EMFs.


1. Radiasi Ponsel Meningkatkan Resiko Kanker Otak

Ketakutan terbesar dari pengguna ponsel di negara-negara maju adalah pertanyaan, “Apakah itu dapat menyebabkan kanker otak?”

Apa anda termasuk diantara orang-orang tersebut? Atau anda tidak pernah berpikir sejauh itu terhadap kesehatan otak anda?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) – mengklasifikasikan radiasi ponsel sebagai karsinogen grup 2B, dan merekomendasikan bahwa, “Konsumen harus mempertimbangkan cara-cara yang dapat mengurangi paparan dari radiasi ponsel."

bahaya paparan radiasi ponsel bagi otak manusia (khususnya anak-anak)

Berdasarkan definisinya, karsinogen grup 2B adalah sesuatu yang diduga sebagai penyebab kanker.

Termasuk di dalam kategori ini adalah hal-hal yang sudah anda ketahui untuk dihindari, seperti: timbal, asap knalpot, DDT, dan kloroform.

Dalam sebuah penelitian terpercaya yang dimuat di NCBI, para peneliti menemukan hubungan yang signifikan antara penggunaan ponsel dalam jangka panjang dengan resiko tumor otak.

Kabar baiknya (jika ini memang pantas disebut sebagai kabar baik) – adalah bahwa dibutuhkan waktu sekitar sepuluh tahun penggunaan ponsel untuk secara signifikan dapat meningkatkan resiko berkembangnya tumor otak ganas.

Saat mencapai batas 10 tahun, maka resiko anda menjadi bertambah 2 kali lipat – namun hanya pada sisi kepala dimana anda sering menempelkan ponsel anda.

Dan yang lebih mengerikannya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa otak anak menyerap radiasi hingga dua kali lebih banyak dibandingkan otak orang dewasa.

Sekarang, apa anda masih berpikiran bahwa memberikan ponsel ke anak anda sebagai “hal yang Baik dan Keren”?

Jika sebelumnya anda pernah bertanya-tanya, “Mengapa masyarakat negara maju sangat melarang anak-anak mereka memiliki ponsel?”, atau “Mengapa anak-anak dari para Bos Produsen Ponsel justru tidak memiliki ponsel?”

Fakta yang saya telah sampaikan di atas itulah jawaban dari pertanyaan anda.

2. Penggunaan Ponsel Menyebabkan Kerusakan Radikal Bebas

Paparan EMF dapat menciptakan radikal bebas – yaitu molekul oksigen tak terikat yang menyerang sel-sel anda, seperti halnya oksigen yang membuat logam menjadi berkarat.

Otak manusia menggunakan 20% dari total asupan oksigen tubuh, sehingga menjadi sangat rentan terhadap kerusakan radikal bebas. Dan paparan EMF dalam jangka panjang akan menyebabkan peningkatan tingkat radikal bebas hingga ke tahap kronis, yang nantinya mengarah pada kerusakan dan penuaan sel otak hingga ke tingkat DNA.

Selain itu, radiasi ponsel juga menekan produksi melatonin. Walaupun secara umum melatonin dianggap sebagai hormon tidur, namun sebenarnya melatonin juga merupakan antioksidan yang kuat – bahkan lebih baik daripada vitamin C.

3. Radiasi HP Menyebabkan Kebocoran Sel Otak

Otak anda dilindungi oleh penghalang yang berupa darah-otak, yaitu sekelompok sel khusus yang bertindak sebagai saringan untuk mencegah racun, patogen, dan zat asing lainnya agar tidak memasuki otak anda.

Dan radiasi dari handphone dapat memecah membran sel otak yang halus, membuat penghalang yang berupa darah otak tadi menjadi lebih mudah ditembus.

Hal yang menyebabkan racun, bahan kimia, berbagai virus, dan logam berat seperti: merkuri – timbal – dan aluminium dapat masuk ke otak, yang nantinya akan mempengaruhi fungsi otak secara negatif.

Kondisi ini juga menyebabkan sel-sel otak mengalami kebocoran ion kalsium yang dibutuhkan untuk komunikasi antar sel-sel otak. Beberapa ahli bahkan percaya jika meningkatnya angka kecelakaan di kalangan pengguna ponsel mungkin bukan diakibatkan oleh gangguan tertentu saat mengemudi, namun karena lambatnya reaksi akibat sel-sel otak yang dibanjiri ion kalsium.
Sebuah jurnal penelitian bahkan mengungkapkan jika seseorang yang mengemudi sambil menelpon memiliki reaksi yang lebih buruk daripada pengemudi mabuk, dan lebih sering mengalami kecelakaan.

4. Radiasi Handphone Dihubungkan dengan Penyakit Alzheimer

Sebuah penelitian dari Journal of the American Medical Association (JAMA), menemukan bahwa memegang ponsel aktif di sebelah kepala anda selama kurang dari satu jam dapat merubah metabolisme glukosa otak.

Dan ini menjadi sebuah masalah karena glukosa adalah sumber energi utama otak anda.

Saat ini ada beberapa ahli yang percaya bahwa penyakit Alzheimer adalah bentuk ketiga dari penyakit diabetes – yaitu diabetes pada otak, dimana sel-sel otak tidak lagi mampu memanfaatkan glukosa sehingga kemudian mati.

Hal lainnya yang membuat radiasi ponsel dihubungkan dengan Alzheimer adalah karena radiasi dari telepon seluler dapat meningkatkan fragmen protein yang disebut dengan beta-amyloid. Protein ini lengket dan menggumpal, sehingga akan membentuk plak di antara sel-sel saraf.

Diantara beberapa faktor resiko, plak beta-amyloid ini merupakan faktor penyebab utama penyakit Alzheimer.

Namun begitu, hal bertentangan yang cukup mengejutkan juga ditemukan pada sebuah penelitian yang diterbitkan di situs National Geographic. Dalam penelitian tersebut, radiasi telepon seluler diketahui dapat mencegah terjadinya penumpukan plak pada otak. Setidaknya pada otak tikus – sebagai hewan yang digunakan sebagai objek penelitian.

Ini mungkin akan membuat penelitian berkembang ke arah baru, namun tetap saja saya tidak merekomendasikan anda untuk mencobanya ke diri sendiri ataupun orang-orang yang anda sayangi.

5. Ponsel Menyebabkan Gangguan Tidur

Diperkirakan ada sekitar 65% orang yang tidur dengan ponsel mereka. Dan angka ini meningkat menjadi 90% pada mereka yang berusia antara 18 sampai 29 tahun.

Sudah ada puluhan studi yang menyatakan bahwa radiasi ponsel – walau dalam tingkat rendah sekalipun, tetap akan mengganggu produksi melatonin pada tubuh. Terganggunya produksi melatonin tentu akan membuat tingkat kelelapan tidur anda menjadi berkurang.

Padahal anda sudah mengetahui bahwa tidur adalah salah satu pilar terpenting bagi kesehatan dan kebugaran otak. Karena hanya pada saat anda sedang tertidurlah otak akan membersihkan racun dan kotoran metabolisme, memperbaiki sel-sel otak, serta memproduksi sel-sel baru yang sehat.

Dan pada saat tertidur pula otak anda akan menyimpan serta memetakan memori yang telah direkam sepanjang hari.

Pemakaian alat elektronik di malam hari, termasuk ponsel – adalah salah satu alasan meningkatnya jumlah orang yang menderita insomnia dan gangguan tidur.

Para peneliti telah menemukan korelasi antara pemakaian ponsel yang tinggi dengan insomnia, stres, dan depresi. Hal ini umumnya dialami oleh anak-anak muda (mereka yang baru beranjak dewasa).

6. Telepon Seluler Berkontribusi Pada Gangguan Tiroid

Radiasi ponsel diketahui dapat mempengaruhi struktur dan fungsi tiroid.

Penggunaan telepon seluler meningkatkan kadar hormon stimulasi tiroid (TSH), yang secara langsung dihubungkan dengan sebuah kondisi yang disebut tiroid rendah (hipotiroidisme).

Beberapa gejala umum pada otak yang berhubungan dengan hipotiroidisme antara lain: hilangnya memori, rasa depresi, kabut otak, susah fokus dan konsentrasi, kelelahan, dan sulit membuat keputusan.

Sedangkan gejala lainnya termasuk di antaranya: sensitif terhadap dingin, kulit kering, konstipasi, naiknya berat badan, dan nyeri otot.

Semoga artikel ini cukup mencerahkan. Silahkan tinggalkan komentar atau pertanyaan jika anda memilikinya.



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Selasa, November 24, 2015

Gambar Ini Dapat Menipu Otak: Anda Akan Melihatnya Berwarna

Persepsi adalah hal yang dapat berubah-ubah. Sebaik apapun indera tubuh kita dalam menjaga keberlangsungan hidup kita, tetap – mereka dapat menyesatkan dan menipu kita.

Berikut ini adalah contoh menarik yang dapat anda coba sendiri di rumah – seperti yang ditampilkan dalam 4 seri terbaru dari BBC, Colour: The Spectrum of Science.

gambar ini akan berubah menjadi berwarna

Coba nanti anda lihat video di bawah, ikuti instruksinya – dan anda akan mendapati gambar hitam-putih tersebut akan berubah menjadi gambar pemandangan yang penuh warna.

Semua hal ini berkaitan dengan sel kerucut kita, yaitu salah satu dari 2 jenis fotoreseptor yang terdapat dalam retina mata – dimana fungsinya adalah untuk menangkap warna.


Lihat Gambar Ini Berubah Menjadi Full Colour


Kita memiliki tiga jenis sel kerucut – dimana masing-masingnya sensitif terhadap panjang gelombang cahaya warna biru, hijau, dan merah. Ketika kita terpapar dengan satu warna, sel kerucut terkait warna tersebut akan terstimulasi secara berlebihan dan menjadi ‘lelah’ serta tidak responsif.

Hal ini akan membuat anda untuk sementara hanya dapat menggunakan dua jenis sel kerucut lainnya, yang akan menunjukkan lawan dari warna ‘pelengkap’ (contoh: merah vs hijau dan biru vs kuning).

Setelah beberapa detik, sel kerucut yang ‘lelah’ tadi akan kembali ‘segar’, dan anda akan mampu melihat warna itu lagi.

Klik video di bawah ini untuk membuktikannya:




Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Selasa, November 03, 2015

Otak Kanan dan Otak Kiri: Apa Fungsi Sebenarnya?

Pernahkah anda mendengar ada orang yang mengatakan jika dirinya lebih cenderung sebagai orang yang memakai otak kanan ataupun otak kiri?

Saya yakin anda sudah berkali-kali mendengar tentang hal di atas, baik melalui program televisi maupun radio – atau mungkin membacanya di berbagai buku, majalah, maupun media online.

Khususnya media online, saya yakin sebagian dari anda juga pasti sudah pernah melakukan test online untuk mengetahui apakah diri anda ber-otak kanan atau ber-otak kiri.

Mengingat begitu populernya mengenai ‘gagasan’ ini di masyarakat, mungkin apa yang akan saya sampaikan dalam artikel kali ini akan terasa sedikit mengejutkan.

Namun ini adalah faktanya:
‘Ide’ mengenai mayoritas orang terbagi menjadi dominan otak kanan ataupun otak kiri tidak lebih hanyalah salah satu dari banyaknya mitos umum tentang otak manusia.

fungsi otak kiri dan otak kanan

Apa Itu Teori Otak Kanan – Otak Kiri?


Berdasarkan teori dominasi otak kiri atau otak kanan, dikatakan bahwa setiap sisi otak mengontrol tipe cara berpikir yang berbeda. Lebih lanjut, dikatakan jika setiap orang cenderung lebih menyukai satu jenis cara berpikir dibandingkan cara berpikir lainnya.

Sebagai contoh:

  • Orang yang ber-otak kiri dikatakan lebih logis, analitis, dan objektif – sedangkan orang yang ber-otak kanan dikatakan cenderung lebih intuitif, bijaksana, dan subjektif.

Dalam ilmu psikologi, teori ini didasarkan pada apa yang dikenal sebagai lateralisasi fungsi otak.

Lalu apakah benar salah satu sisi otak mengontrol fungsi tertentu? Apakah benar orang-orang terbagi menjadi  yang ber-otak kiri atau otak kanan?

Seperti halnya yang terjadi pada banyak mitos psikologi populer, hal ini sebenarnya juga diawali dari pengamatan (penelitian) tentang otak manusia – yang kemudian menjadi menyimpang secara dramatis dan berlebihan.

Teori mengenai otak kanan – otak kiri aslinya adalah karya dari Roger W. Sperry (penerima Hadiah Nobel pada tahun 1981).

pencetus teori otak kanan dan otak kiri

Saat sedang mempelajari efek dari epilepsi, Sperry menemukan bahwa pemotongan corpus callosum (struktur yang menghubungkan dua belahan otak) bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan kejang yang biasa dialami oleh penderita.

Tapi ini juga bukan tanpa resiko, karena pasien-pasien yang menjalani prosedur tersebut ternyata mengalami gejala lain setelah jalur komunikasi antara kedua sisi otak tersebut dipotong.

Sebagai contoh:

  • Banyak pasien – dengan otak yang telah ‘terbagi’ tersebut – tidak mampu menyebutkan nama objek yang diproses oleh sisi otak bagian kanan, tapi mereka mampu menyebutkan nama objek yang diproses oleh sisi otak bagian kiri.

Berdasarkan informasi ini Sperry lalu menyimpulkan bahwa kemampuan berbahasa dikendalikan oleh sisi otak kiri.

Namun kemudian penelitian lanjutan telah menunjukkan bahwa otak tidaklah seperti apa yang telah dipercayai oleh ilmuwan sejak dulu.

Sebagai contoh:

  • Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa kemampuan tertentu – seperti mata pelajaran matematika – justru paling kuat saat kedua bagian otak bekerja sama.

Saat ini para ahli syaraf telah mengetahui bahwa kedua sisi otak saling bekerja sama untuk melakukan berbagai tugas, dan kedua belahan otak tersebut berkomunikasi melalui corpus collosum.

Carl Zimmer, (dalam sebuah artikel yang dimuat Discover Magazine)
"Tidak peduli seberapa lateralnya otak kita, tetap dua belah sisi masih bekerja secara bersama-sama.

Gagasan psikologi populer mengenai otak kiri dan otak kanan tidak menangkap hubungan kerjasama intim mereka.

Misalnya – hemisfer kiri mengkhususkan diri dalam memilih suara yang membentuk kata-kata dan memproses sintaks dari kata-kata, namun tidak memiliki kemampuan mutlak untuk mengolah bahasa.

Hemisfer kanan-lah yang sebenarnya lebih sensitif terhadap fitur emosional berbahasa, pengaturan untuk irama lambat saat berbicara yang membawa intonasi dan penekanan kata."
Dalam salah satu penelitian di University of Utah, lebih dari 1.000 orang dianalisis otaknya – untuk mengukur apakah mereka cenderung menggunakan salah satu sisi otak dibanding sisi yang lainnya.

Dan studi tersebut mengungkap bahwa walaupun kadang-kadang aktifitas lebih tinggi terjadi pada beberapa area penting, namun secara rata-rata – kedua sisi otak seimbang dalam menjalankan aktifitas mereka.

Dr.Jeff Anderson, pimpinan penelitian:
"Memang benar bahwa beberapa fungsi otak terjadi pada salah satu sisi otak atau sisi lainnya. Bahasa cenderung di sebelah kiri, perhatian lebih banyak di sebelah kanan. Namun itu tidak lantas membuat seseorang cenderung memiliki jaringan otak kiri atau otak kanan yang lebih kuat. Sepertinya itu lebih ditentukan oleh koneksi demi koneksi yang terjadi,”
Dan walaupun ide mengenai dominasi otak kanan / otak kiri telah berhasil dibantah secara ilmiah, namun popularitasnya ternyata masih terus berlanjut.


Seperti Apa Sebenarnya Teori Otak Kanan dan Otak Kiri Ini?


perbedaan fungsi otak kanan dengan fungsi otak kiri

Otak Kanan

Menurut teori dominasi otak kiri atau otak kanan, orang yang dominan otak kanan dikatakan sangat mahir untuk hal-hal yang bersifat ekspresif dan kreatif. Beberapa kemampuan yang populer dikaitkan dengan fungsi otak kanan meliputi:

  • Mengenali wajah
  • Mengekspresikan emosi
  • Musik
  • Membaca emosi
  • Warna
  • Gambar
  • Intuisi
  • Kreativitas

Otak Kiri

Sedangkan orang yang dominan otak kiri dikatakan mahir dalam pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan logika, bahasa, dan pemikiran analitis. Orang yang ber-otak kiri sering digambarkan lebih baik dalam:

  • Bahasa
  • Logika
  • Berpikir kritis
  • Angka
  • Penalaran

Mengapa orang-orang masih berbicara tentang teori otak kanan dan otak kiri?

Seperti telah dijelaskan di atas, para peneliti telah berhasil membuktikan bahwa teori  otak kiri / kanan hanyalah sebuah mitos. Namun tetap saja popularitasnya terus berlanjut. Mengapa?

Sayangnya banyak orang yang tidak menyadarinya jika teori tersebut telah ketinggalan jaman. Saat ini, para siswa seharusnya memang terus mempelajari teori tersebut sebagai titik penting dalam sejarah – untuk memahami bagaimana pemahaman kita tentang cara kerja otak telah berkembang dan berubah dari waktu ke waktu. Dan ini semua terjadi karena para peneliti terus mempelajari secara lebih dalam tentang bagaimana cara otak kita beroperasi.

Dan walaupun psikologi populer serta teks book pribadi terbukti terlalu memukul rata dan melebih-lebihkan hal di atas, memahami kekuatan serta kelemahan anda pada area-area otak tertentu juga dapat membantu anda mengembangkan cara tertentu dalam belajar.

Sebagai contoh:

  • Jika anda merasa mengalami kesulitan dalam mengikuti instruksi secara lisan (biasanya diasosiasikan sebagai orang ber-otak kanan), maka mungkin akan sangat bermanfaat jika anda mencatat semua instruksi yang diberikan – atau anda mengembangkan kemampuan anda dalam berorganisasi.

Penting untuk diingat!

Jika anda pernah / sering mengikuti tes maupun kuis mengenai otak kiri atau otak kanan (banyak ditemui di media online) – maka jadikan itu hanya sebagai sarana senang-senang saja. Jangan pernah menjadikan hasil yang anda peroleh dari tes tersebut sebagai patokan mengenai diri anda.

Semoga bermanfaat! Jangan sungkan untuk meninggalkan komentar jika anda memilikinya.

Referensi:



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Rabu, April 08, 2015

Apa Besar Otak Manusia Berpengaruh Terhadap Tingkat Kecerdasan?

“Sebesar apa sih otak kita?”

Mungkin anda pernah bertanya seperti itu. Otak adalah organ terpenting sekaligus yang paling misterius pada tubuh kita. Hingga saat ini para ilmuwan masih terus mempelajarinya, dan tidak pernah berhenti dibuat kagum dengan setiap temuan-temuan baru.

Bagi anda yang belum menyadari betapa vitalnya organ ini, saya akan memberikan penjelasan sederhana:
Anda tidak akan dapat berjalan – berbicara – bergerak – dan melakukan semua aktifitas yang selama ini anda lakukan jika otak anda tidak bekerja dengan baik.
Semua dikendalikan oleh otak anda, bahkan denyut jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh hingga kontraksi otot-otot pada paru-paru yang membuat anda dapat bernafas, itu semua atas perintah otak anda.

ukuran besar otak manusia

Otak memang sangat menakjubkan, mampu menyimpan memori yang luar biasa banyak, sangat rentan terhadap kerusakan, namun juga sangat mudah beradaptasi dengan perubahan.

Secara struktur, otak manusia tidak jauh berbeda dengan hewan mamalia lainnya. Yang membuatnya berbeda adalah ukurannya - jika dikaitkan dengan ukuran tubuh. Jika diadu berdasarkan proporsi tubuh, maka secara umum otak manusia jauh lebih besar daripada hewan mamalia lainnya (walau tidak semua).

Ukuran Otak Manusia


  • Berdasarkan beratnya, otak manusia dewasa memiliki berat antara 1300 – 1400 gram, atau rata-rata 1,36 kg.
  • Berdasarkan panjangnya, otak manusia dewasa rata-rata memiliki panjang sekitar 15 cm.
  • Sebagai perbandingan, otak bayi yang baru lahir rata-rata memiliki berat sekitar 350 – 400 gram.
  • Pria cenderung memiliki otak yang lebih besar daripada wanita. Dengan membandingkan berat tubuh secara keseluruhan, otak pria umumnya sekitar 100 gram lebih besar daripada otak wanita.
  • Pada wanita, bagian dari lobus frontal dan korteks limbik (yaitu area otak yang terkait dengan pemecahan masalah dan pengaturan emosional) cenderung lebih besar daripada pria.
  • Pada pria, bagian korteks parietalis (terkait dengan persepsi ruang) dan amigdala (terkait dengan perilaku sosial dan seksual) cenderung lebih besar daripada wanita.
  • Neuron adalah jaringan-jaringan yang berfungsi sebagai blok bangunan pada otak dan sistem saraf. Mereka mengirim dan membawa informasi, memungkinkan berbagai bagian otak dapat berkomunikasi satu sama lain, serta memungkinkan otak untuk berkomunikasi dengan berbagai bagian lain pada tubuh kita. Peneliti telah berhasil mengetahui jika setidaknya terdapat sekitar 86 milyar neuron pada otak kita.


Apakah Ukuran Otak itu Penting?


Tidak semua orang memiliki ukuran otak yang sama persis, itu sudah jelas. Beberapa lebih besar, dan sebagian lainnya lebih kecil. Anda mungkin pernah bertanya-tanya mengenai apakah ukuran otak terkait dengan karakteristik seperti disabilitas atau tingkat kecerdasan.

Jawabannya, para peneliti telah menemukan bahwa dalam beberapa kasus – ukuran otak dapat dikaitkan dengan perkembangan beberapa penyakit dan kondisi mental tertentu.

Contohnya:

  • Anak-anak penderita autis, mereka cenderung memiliki otak yang lebih besar dan pertumbuhan otak dini yang tidak proporsional jika dibandingkan dengan anak-anak non-autis.
  • Bagi mereka yang menderita penyakit alzheimer, ukuran hippocampus (area otak yang sangat terkait dengan memori) cenderung lebih kecil.

apa ukuran besar otak manusia berhubungan dengan tingkat kecerdasan

Bagaimana dengan tingkat kecerdasan?

Untuk pertanyaan ini, jawabannya sangatlah bervariasi dan tergantung kepada siapa anda bertanya. Berdasarkan sebuah penelitian skala besar yang dipimpin oleh Michael McDaniel dari Virginia Commonwealth University, otak yang lebih besar dikatakan berkorelasi dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi.

Namun tidak semua ilmuwan setuju dengan kesimpulan dari McDaniel tersebut. Penelitian itu juga menyisakan beberapa pertanyaan penting yang belum terjawab, seperti – bagaimana cara kita mendefinisikan dan mengukur kecerdasan? Apakah kita harus mempertimbangkan ukuran relatif tubuh ketika membuat korelasi tersebut? Dan bagian mana dari otak kita yang harus diteliti?

Hal lain yang juga penting untuk dicatat adalah, ketika membandingkan perbedaan antara satu orang dengan sekumpulan orang-orang lainnya, maka variasi ukuran otak menjadi relatif kecil sekali.

Belum lagi berbagai faktor tambahan yang juga mempengaruhi atau memiliki peran penting, seperti – kepadatan neuron di otak, faktor sosial dan budaya, dan perbedaan struktural lainnya dalam otak masing-masing individu.

Jadi mungkin saya dapat menyimpulkan jika ukuran otak tidak terlalu berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan seseorang.

Bagaimana dengan pendapat anda? Atau anda mungkin memiliki pertanyaan serta tambahan informasi yang berguna terkait postingan diatas. Silahkan tuliskan dalam kolom komentar dibawah, saya pasti akan menanggapi. Salam.

Referensi:



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...