Seberapa Bahayakah Radiasi Ponsel Bagi Otak Anda?

Berbagai bukti mengenai bahaya radiasi telepon seluler yang dapat mengganggu kesehatan dan fungsi otak terus saja bermunculan, terutama pada anak-anak. Untuk mengurangi resiko, beberapa langkah berikut ini layak untuk anda pertimbangkan.

Berdasarkan data terbaru dari WHO – saat ini diperkirakan ada sekitar 6,9 miliar pelanggan ponsel – hampir 1 ponsel untuk setiap orang di planet ini, dan jumlah tersebut akan terus bertambah.

bahaya radiasi telepon seluler bagi otak manusia

Jika rata-rata orang Amerika sekarang menghabiskan 162 menit pada perangkat mobile mereka setiap hari, maka anda bisa membayangkan bagaimana dengan orang Indonesia – yang termasuk sebagai salah satu pengguna ponsel tertinggi di dunia.

Hingga saat ini, kontroversi tentang resiko gangguan kesehatan dari penggunaan ponsel masih terus berlangsung. Anda mungkin sudah pernah mendengar/membaca argumen dari kedua belah pihak – bahwa ponsel benar-benar aman. Dan sebaliknya – ada juga pihak yang mengatakan bahwa ponsel dapat menyebabkan kanker otak dan banyak masalah kesehatan lainnya.

Memang memiliki telepon seluler memberikan kenyamanan tersendiri bagi kita, hal ini tidak dapat dibantah. Namun anda juga tentu perlu mengetahui kemungkinan apa saja yang akan terjadi pada otak anda akibat radiasi ponsel.

Mari kita mendalaminya lebih jauh...

Bagaimana Pengaruh Telepon Seluler Terhadap Otak


Pada dasarnya ponsel adalah radio canggih yang bekerja dengan menggunakan energi elektromagnetik – untuk mengirimkan dan menerima suara.

Tubuh kita sendiri sebenarnya selama ini selalu ‘diselimuti’ oleh lautan medan elektromagnetik (EMFs) – yang dihasilkan dari semua perangkat elektronik yang kita miliki. Namun begitu, ponsel diketahui sebagai sumber energi elektromagnetik yang paling cepat berkembang di dunia.

Dan EMFs yang dipancarkan oleh ponsel ini menjadi sangat mengkhawatirkan karena kita begitu sering menggunakannya – itupun secara langsung ditempelkan di kepala kita.

Bagi anda yang memperhatikan, mungkin anda sudah mengetahui jika semua ponsel memiliki nilai tingkat penyerapan tertentu (SAR = Specific Absorption Rate). Menurut Komisi Komunikasi Federal (FCC), SAR adalah ukuran jumlah energi frekuensi radio (RF) yang diserap oleh tubuh saat kita menggunakan ponsel.

Dan tahukah anda jika tidak ada satupun produk telepon selular yang memiliki tingkat SAR = nol? Ini artinya bahwa sebagian dari radiasi ponsel akan terserap oleh tubuh kita, menembus tengkorak dan otak kita.

Berikut adalah sedikit kutipan dari salah satu laporan mengenai efek samping induksi EMF dari radiasi telepon seluler:
Ponsel dan WiFi bukanlah satu-satunya sumber EMFs. Yang mengejutkannya, ternyata peralatan rumah berkabel lainnya seperti kulkas anda, pengering rambut, vacuum cleaner, dan blender juga merupakn sumber EMFs.


1. Radiasi Ponsel Meningkatkan Resiko Kanker Otak

Ketakutan terbesar dari pengguna ponsel di negara-negara maju adalah pertanyaan, “Apakah itu dapat menyebabkan kanker otak?”

Apa anda termasuk diantara orang-orang tersebut? Atau anda tidak pernah berpikir sejauh itu terhadap kesehatan otak anda?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) – mengklasifikasikan radiasi ponsel sebagai karsinogen grup 2B, dan merekomendasikan bahwa, “Konsumen harus mempertimbangkan cara-cara yang dapat mengurangi paparan dari radiasi ponsel."

bahaya paparan radiasi ponsel bagi otak manusia (khususnya anak-anak)

Berdasarkan definisinya, karsinogen grup 2B adalah sesuatu yang diduga sebagai penyebab kanker.

Termasuk di dalam kategori ini adalah hal-hal yang sudah anda ketahui untuk dihindari, seperti: timbal, asap knalpot, DDT, dan kloroform.

Dalam sebuah penelitian terpercaya yang dimuat di NCBI, para peneliti menemukan hubungan yang signifikan antara penggunaan ponsel dalam jangka panjang dengan resiko tumor otak.

Kabar baiknya (jika ini memang pantas disebut sebagai kabar baik) – adalah bahwa dibutuhkan waktu sekitar sepuluh tahun penggunaan ponsel untuk secara signifikan dapat meningkatkan resiko berkembangnya tumor otak ganas.

Saat mencapai batas 10 tahun, maka resiko anda menjadi bertambah 2 kali lipat – namun hanya pada sisi kepala dimana anda sering menempelkan ponsel anda.

Dan yang lebih mengerikannya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa otak anak menyerap radiasi hingga dua kali lebih banyak dibandingkan otak orang dewasa.

Sekarang, apa anda masih berpikiran bahwa memberikan ponsel ke anak anda sebagai “hal yang Baik dan Keren”?

Jika sebelumnya anda pernah bertanya-tanya, “Mengapa masyarakat negara maju sangat melarang anak-anak mereka memiliki ponsel?”, atau “Mengapa anak-anak dari para Bos Produsen Ponsel justru tidak memiliki ponsel?”

Fakta yang saya telah sampaikan di atas itulah jawaban dari pertanyaan anda.

2. Penggunaan Ponsel Menyebabkan Kerusakan Radikal Bebas

Paparan EMF dapat menciptakan radikal bebas – yaitu molekul oksigen tak terikat yang menyerang sel-sel anda, seperti halnya oksigen yang membuat logam menjadi berkarat.

Otak manusia menggunakan 20% dari total asupan oksigen tubuh, sehingga menjadi sangat rentan terhadap kerusakan radikal bebas. Dan paparan EMF dalam jangka panjang akan menyebabkan peningkatan tingkat radikal bebas hingga ke tahap kronis, yang nantinya mengarah pada kerusakan dan penuaan sel otak hingga ke tingkat DNA.

Selain itu, radiasi ponsel juga menekan produksi melatonin. Walaupun secara umum melatonin dianggap sebagai hormon tidur, namun sebenarnya melatonin juga merupakan antioksidan yang kuat – bahkan lebih baik daripada vitamin C.

3. Radiasi HP Menyebabkan Kebocoran Sel Otak

Otak anda dilindungi oleh penghalang yang berupa darah-otak, yaitu sekelompok sel khusus yang bertindak sebagai saringan untuk mencegah racun, patogen, dan zat asing lainnya agar tidak memasuki otak anda.

Dan radiasi dari handphone dapat memecah membran sel otak yang halus, membuat penghalang yang berupa darah otak tadi menjadi lebih mudah ditembus.

Hal yang menyebabkan racun, bahan kimia, berbagai virus, dan logam berat seperti: merkuri – timbal – dan aluminium dapat masuk ke otak, yang nantinya akan mempengaruhi fungsi otak secara negatif.

Kondisi ini juga menyebabkan sel-sel otak mengalami kebocoran ion kalsium yang dibutuhkan untuk komunikasi antar sel-sel otak. Beberapa ahli bahkan percaya jika meningkatnya angka kecelakaan di kalangan pengguna ponsel mungkin bukan diakibatkan oleh gangguan tertentu saat mengemudi, namun karena lambatnya reaksi akibat sel-sel otak yang dibanjiri ion kalsium.
Sebuah jurnal penelitian bahkan mengungkapkan jika seseorang yang mengemudi sambil menelpon memiliki reaksi yang lebih buruk daripada pengemudi mabuk, dan lebih sering mengalami kecelakaan.

4. Radiasi Handphone Dihubungkan dengan Penyakit Alzheimer

Sebuah penelitian dari Journal of the American Medical Association (JAMA), menemukan bahwa memegang ponsel aktif di sebelah kepala anda selama kurang dari satu jam dapat merubah metabolisme glukosa otak.

Dan ini menjadi sebuah masalah karena glukosa adalah sumber energi utama otak anda.

Saat ini ada beberapa ahli yang percaya bahwa penyakit Alzheimer adalah bentuk ketiga dari penyakit diabetes – yaitu diabetes pada otak, dimana sel-sel otak tidak lagi mampu memanfaatkan glukosa sehingga kemudian mati.

Hal lainnya yang membuat radiasi ponsel dihubungkan dengan Alzheimer adalah karena radiasi dari telepon seluler dapat meningkatkan fragmen protein yang disebut dengan beta-amyloid. Protein ini lengket dan menggumpal, sehingga akan membentuk plak di antara sel-sel saraf.

Diantara beberapa faktor resiko, plak beta-amyloid ini merupakan faktor penyebab utama penyakit Alzheimer.

Namun begitu, hal bertentangan yang cukup mengejutkan juga ditemukan pada sebuah penelitian yang diterbitkan di situs National Geographic. Dalam penelitian tersebut, radiasi telepon seluler diketahui dapat mencegah terjadinya penumpukan plak pada otak. Setidaknya pada otak tikus – sebagai hewan yang digunakan sebagai objek penelitian.

Ini mungkin akan membuat penelitian berkembang ke arah baru, namun tetap saja saya tidak merekomendasikan anda untuk mencobanya ke diri sendiri ataupun orang-orang yang anda sayangi.

5. Ponsel Menyebabkan Gangguan Tidur

Diperkirakan ada sekitar 65% orang yang tidur dengan ponsel mereka. Dan angka ini meningkat menjadi 90% pada mereka yang berusia antara 18 sampai 29 tahun.

Sudah ada puluhan studi yang menyatakan bahwa radiasi ponsel – walau dalam tingkat rendah sekalipun, tetap akan mengganggu produksi melatonin pada tubuh. Terganggunya produksi melatonin tentu akan membuat tingkat kelelapan tidur anda menjadi berkurang.

Padahal anda sudah mengetahui bahwa tidur adalah salah satu pilar terpenting bagi kesehatan dan kebugaran otak. Karena hanya pada saat anda sedang tertidurlah otak akan membersihkan racun dan kotoran metabolisme, memperbaiki sel-sel otak, serta memproduksi sel-sel baru yang sehat.

Dan pada saat tertidur pula otak anda akan menyimpan serta memetakan memori yang telah direkam sepanjang hari.

Pemakaian alat elektronik di malam hari, termasuk ponsel – adalah salah satu alasan meningkatnya jumlah orang yang menderita insomnia dan gangguan tidur.

Para peneliti telah menemukan korelasi antara pemakaian ponsel yang tinggi dengan insomnia, stres, dan depresi. Hal ini umumnya dialami oleh anak-anak muda (mereka yang baru beranjak dewasa).

6. Telepon Seluler Berkontribusi Pada Gangguan Tiroid

Radiasi ponsel diketahui dapat mempengaruhi struktur dan fungsi tiroid.

Penggunaan telepon seluler meningkatkan kadar hormon stimulasi tiroid (TSH), yang secara langsung dihubungkan dengan sebuah kondisi yang disebut tiroid rendah (hipotiroidisme).

Beberapa gejala umum pada otak yang berhubungan dengan hipotiroidisme antara lain: hilangnya memori, rasa depresi, kabut otak, susah fokus dan konsentrasi, kelelahan, dan sulit membuat keputusan.

Sedangkan gejala lainnya termasuk di antaranya: sensitif terhadap dingin, kulit kering, konstipasi, naiknya berat badan, dan nyeri otot.

Semoga artikel ini cukup mencerahkan. Silahkan tinggalkan komentar atau pertanyaan jika anda memilikinya.



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...


EmoticonEmoticon