Tampilkan postingan dengan label Penyebab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyebab. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 27, 2016

Data Penelitian: Obat Alergi dan Flu Umum Dapat Menyebabkan Alzheimer

Saat sedang berjuang melawan virus (flu) – mengkonsumsi obat adalah langkah yang dapat membuat tubuh kita merasa sedikit lebih nyaman. Begitupula bagi mereka yang menderita alergi, obat-obatan seperti Benadryl bertindak layaknya ‘dewa penolong’ yang akan langsung menghilangkan masalah secara tuntas.

Namun saat ini sepertinya anda harus berpikir lebih panjang sebelum memutuskan untuk sering-sering mengkonsumsi obat flu dan alergi yang umum dijual – terutama jika anda telah melewati usia paruh baya.

Shannon Risacher

penelitian keterkaitan obat flu dan alergi dengan penyakit alzheimer

Para peneliti dari Indiana University School of Medicine menemukan bukti bahwa obat-obatan yang memiliki efek “antikolonergik” kuat dikatakan dapat menyusutkan otak dan menurunkan metabolismenya. Hasil temuan ini sudah resmi diterbitkan dalam sebuah jurnal di JAMA Neurology.

Sebenarnya ini juga bukanlah temuan baru, karena penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara obat antikolinergik dengan gangguan kognitif pada orang-orang yang berusia (sangat) dewasa.

Sebuah studi pada tahun 2013 menyimpulkan, bahwa hanya dengan mengkonsumsi salah satu dari obat-obatan tersebut dalam dua bulan – itu akan menyebabkan masalah memori pada mereka yang berusia tua.


Data Hubungan Obat Flu dan Alergi Dengan Penyakit Alzheimer


Paper akademis terbaru yang dilaporkan oleh Indiana University ini diyakini sebagai yang pertama dalam mempelajari potensi biologi yang mendasari keterkaitan klinis tersebut menggunakan pengukuran neuroimaging metabolisme otak dan atrofi.

"Temuan ini memberikan kita pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kelompok obat-obatan ini dapat bekerja pada otak dengan cara yang mungkin meningkatkan resiko gangguan kognitif dan demensia," kata Shannon Risacher, asisten profesor ilmu radiologi dan pencitraan di Indiana University School of Medicine – yang sekaligus penulis utama dalam studi tersebut.

"Dengan melihat semua bukti penelitian ini, para dokter mungkin harus mempertimbangkan alternatif lain untuk obat antikolinergik jika tersedia saat menangani pasien mereka yang berusia lebih tua."

"Saya pasti tidak akan menyarankan kakek saya atau bahkan orang tua saya untuk mengkonsumsi obat-obatan tersebut kecuali memang terpaksa," tambah Risacher.


Berdasarkan laporan dari Indiana University, para partisipan penelitian yang mengkonsumsi obat-obatan antikolinergik memiliki tingkat metabolisme glukosa lebih rendah – yang mana ini merupakan "biomarker" yang menunjukkan aktivitas otak dan penyakit Alzheimer.

Mereka juga menunjukkan hasil yang lebih buruk pada tes memori jangka pendek dan beberapa fungsi eksekutif (meliputi berbagai kegiatan seperti penalaran verbal, perencanaan dan pemecahan masalah) – jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mengkonsumsi obat-obatan tersebut.

Dari 451 partisipan yang semuanya berusia antara 70 hingga 75 tahun, mereka yang menggunakan obat antikolinergik diketahui mengalami “pengurangan volume otak” saat dilihat menggunakan scan MRI.

Dr. Risacher mengatakan bahwa hasil ini memberikan "petunjuk" dampak biologis dari obat-obatan tersebut pada otak. Namun dia juga menambahkan bahwa, "penelitian lanjutan masih diperlukan jika kita benar-benar ingin memahami mekanisme apa saja yang terlibat."

Referensi :



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Sabtu, April 11, 2015

Penyebab Alzheimer Dan Faktor Resikonya

Para peneliti di seluruh dunia sepakat bahwa penyebab alzheimer pada kebanyakan orang adalah kombinasi dari faktor genetik (keturunan), gaya hidup, dan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi otak dari waktu ke waktu.

Berdasarkan data, penyebab penyakit alzheimer yang diakibatkan oleh perubahan genetik tertentu yang hampir pasti membuat seseorang akan menderita alzheimer diketahui tidak lebih dari 5%.

Walaupun hal-hal yang menyebabkan seseorang terkena alzheimer ini belum sepenuhnya dapat dipahami, namun akibat yang ditimbulkan penyakit ini pada otak sudah sangat jelas sekali.

Penyakit Alzheimer merusak dan membunuh sel-sel otak. Otak yang terkena  Alzheimer memiliki jumlah sel dan koneksi yang lebih sedikit di antara sel-sel yang masih hidup jika dibandingkan dengan otak yang sehat.

penyebab alzheimer dan faktor yang memperparah resiko

Dan dengan semakin banyaknya sel-sel otak yang mati, maka Alzheimer menyebabkan terjadinya penyusutan otak yang signifikan. Saat dokter memeriksa jaringan otak yang terkena Alzheimer di bawah mikroskop, maka mereka akan melihat dua jenis kelainan yang merupakan tanda dari penyakit ini:

  • Plak. Gumpalan protein yang disebut beta-amiloid ini dapat merusak dan menghancurkan sel-sel otak dalam beberapa cara, termasuk mengganggu komunikasi antar sel-sel otak. Meskipun penyebab utama dari matinya sel-sel otak pada penderita Alzheimer belum diketahui, namun keberadaan beta-amiloid di luar sel-sel otak dianggap sebagai penyebab utamanya.
  • Kusut. Sel-sel otak sangat tergantung pada dukungan internal dan sistem transportasi yang membawa semua nutrisi dan bahan-bahan penting untuk membuatnya berumur panjang. Sistem ini memerlukan struktur dan fungsi protein yang normal – disebut dengan tau.
  • Pada otak penderita Alzheimer, benang  protein tau dalam sel-sel otak ini terlihat kusut dan abnormal – menyebabkan terjadinya kegagalan sistem transportasi. Kegagalan ini juga sangat terkait erat dengan terjadinya penurunan dan kematian pada sel-sel otak.

Faktor Penyebab Alzheimer: Yang Meningkatkan Resiko


Bertambahnya usia merupakan faktor resiko terbesar yang diketahui sebagai penyebab kondisi Alzheimer.

Sebagai catatan!

Alzheimer bukanlah kondisi normal yang merupakan bagian dari proses penuaan, namun resiko anda untuk terkena penyakit ini semakin meningkat setelah mencapai usia 65 tahun. Setidaknya hampir separuh dari mereka yang telah berumur diatas 85 tahun diketahui menderita alzheimer.

Orang-orang yang memiliki perubahan genetik langka – yang hampir pasti akan membuat mereka menderita penyakit ini – sudah mulai akan mengalami gejala awal alzheimer saat mereka berusia 30-an.

hal yang menyebabkan orang menderita alzheimer

Genetika dan Sejarah Keturunan

Resiko anda untuk terkena Alzheimer tampaknya agak lebih tinggi jika garis keluarga terdekat diketahui menderita penyakit ini – seperti orang tua atau saudara kandung. Para ilmuwan telah mengidentifikasi perubahan langka (mutasi) pada tiga gen yang hampir pasti akan membuat seseorang terkena alzheimer, jika mereka membawa salah satu dari 3 jenis gen tersebut.

Namun penderita penyakit alzheimer yang disebabkan oleh mutasi gen ini diketahui tidak lebih dari 5%. Kebanyakan mekanisme genetika dari kondisi Alzheimer antara keluarga ini tetap tidak dapat dijelaskan. Resiko gen tertinggi yang telah diketahui oleh para peneliti sejauh ini adalah apolipoprotein e4 (APOE e4). Resiko gen lainnya telah diidentifikasi, namun kesimpulannya masih dianggap kurang meyakinkan.


Jenis Kelamin

Wanita diketahui lebih mungkin untuk menderita penyakit alzheimer daripada pria, sebagian besarnya karena kebanyakan wanita memang hidup lebih lama.

Kerusakan Kognitif Ringan

Orang yang mengalami kerusakan kognitif ringan (KKR) biasanya memiliki masalah memori atau gejala penurunan fungsi kognitif lainnya yang terlihat lebih buruk daripada yang dibayangkan pada usia mereka, namun ini tidak cukup parah untuk dapat didiagnosis sebagai demensia alzheimer.

Mereka yang menderita KKR memang memiliki peningkatan resiko – tapi bukan hal yang pasti jika kemudian mereka akan terkena demensia. Melakukan sesuatu seperti menjalani gaya hidup sehat dan strategi untuk mengimbangi kehilangan memori pada tahap ini mungkin dapat membantu  untuk menunda atau mencegah perkembangan demensia.

Trauma Pada Kepala

Orang-orang yang pernah mengalami beberapa kali trauma kepala berat atau trauma kepala berulang (contohnya: petinju dan petarung bebas) diketahui memiliki resiko lebih besar untuk terkena penyakit Alzheimer.

Gaya Hidup dan Kesehatan Jantung

Memang tidak ada faktor gaya hidup yang secara meyakinkan dapat menunjukkan jika itu dapat mengurangi resiko anda terkena penyakit Alzheimer.

Namun begitu, beberapa bukti menunjukkan bahwa hal sama yang meningkatkan resiko anda untuk terkena penyakit jantung juga dapat meningkatkan kemungkinan anda mengalami Alzheimer. Hal-hal tersebut antara lain:

  • Kurang berolah raga
  • Merokok
  • Tekanan darah tinggi
  • Kolesterol darah tinggi
  • Meningkatnya kadar homosistein
  • Diabetes yang kurang terkontrol
  • Kurang mengkonsumsi buah dan sayuran

Faktor-faktor resiko ini juga dikaitkan dengan vaskular demensia, jenis penyakit pikun yang disebabkan oleh rusaknya pembuluh darah di otak. Konsultasikan dengan dokter atau konsultan kesehatan anda untuk mengendalikan faktor-faktor diatas. Hal ini tidak saja akan membantu melindungi jantung anda, namun juga akan mengurangi resiko penyakit alzheimer dan demensia vaskular.

Faktor Yang Mengurangi Resiko Terkena Alzheimer


Selalu Belajar dan Aktif Secara Sosial

Kita tidak perlu lagi membahas tentang bahaya hilangnya ingatan anda akibat alzheimer, artikel-artikel saya lainnya mengenai penyakit ini sudah cukup banyak menerangkannya. Yang perlu diketahui adalah, bahwa penelitian telah menemukan hubungan antara selalu terlibat aktif pada kegiatan-kegiatan yang menstimulasi mental serta sosial dengan berkurangnya resiko terkena penyakit Alzheimer.

Faktor-faktor yang diketahui dapat mengurangi resiko Alzheimer meliputi:

  • Tingkat pendidikan formal yang lebih tinggi
  • Pekerjaan yang menstimulasi otak
  • Aktifitas menyenangkan yang sekaligus menantang mental, seperti membaca, bermain game atau bermain alat musik
  • Sering terlibat pada aktifitas sosial

Para ilmuwan memang belum dapat menjelaskan kaitan ini secara ilmiah. Satu teori yang paling banyak dipegang adalah, bahwa dengan menggunakan otak anda secara aktif – dapat membangun lebih banyak koneksi antar sel yang akan melindungi otak anda dari dampak perubahan yang berkaitan dengan Alzheimer.

Berikutnya baca:
Yang sebelumnya:

Referensi:



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...

Rabu, Maret 11, 2015

Penyebab Kanker Otak: Faktor Yang Diwaspadai

Dalam kebanyakan kasus yang terjadi, penyebab kanker otak atau yang secara umum lebih sering disebut sebagai tumor otak oleh dokter hampir tidak diketahui secara pasti. Yang pasti penyakit kanker otak tidak menular, dan penelitian juga telah mengungkapkan sejumlah faktor yang diketahui dapat meningkatkan resiko munculnya tumor di otak kita.

Kasus tumor otak relatif jarang. Hanya sedikit sekali dari populasi manusia di dunia yang didiagnosis memiliki tumor yang muncul di otak, atau pada sistem saraf pusat (SSP) lainnya, atau juga di dalam tengkorak (tempurung kepala).

Sekitar setengah dari mereka dikatakan menderita kanker otak (tumor otak ganas). Sedangkan sisanya memiliki tumor jinak yang bersifat non kanker, atau tumor yang belum bisa dikonfirmasi apakah akan berkembang menjadi kanker atau tidak. Hal ini biasanya karena tumor berada di daerah otak atau SSP yang terlalu sulit untuk diambil sampelnya (biopsi) sebagai landasan dokter dalam membuat diagnosis.

penyebab kanker otak yang perlu diwaspadai

Tumor otak yang bersifat kanker lebih umum terjadi pada pria daripada wanita. Sedangkan tumor otak non-kanker dan tumor yang tidak dapat didiagnosis lebih umum dialami oleh wanita.

Penyebab Utama Kanker Otak


Umur

Setiap orang memang bisa terkena tumor otak pada usia berapa pun. Namun secara umum, resiko memiliki tumor otak akan meningkat seiring bertambahnya usia.

Walau begitu, jenis tumor otak sendiri ada banyak, dan beberapa diantaranya lebih umum dialami oleh mereka yang berada di usia  dewasa. Dibandingkan pada tahun 70-an, saat ini sudah lebih banyak kasus tumor otak yang berhasil didiagnosis. Hal ini karena kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran saat ini, sehingga semakin banyak data mengenai tumor otak yang berhasil dikumpulkan.

Berdasarkan data, diketahui sekitar 400 anak-anak (di bawah usia 15 tahun) yang terdiagnosa memiliki tumor otak setiap tahunnya di Inggris, jadi bisa dikatakan cukup langka. Namun walau begitu, kanker otak adalah 1 dari 2 jenis kanker yang paling umum diderita oleh anak-anak.

Sedangkan untuk data kasus tumor (kanker) otak pada anak-anak di Indonesia, blog Otak Super tidak dapat menemukan datanya. Bahkan di situs resmi Kementerian Kesehatan RI juga tidak tercantum. Namun berdasarkan data dari beberapa Rumah Sakit besar di Indonesia, diperkirakan jumlah penderita tumor otak pada anak-anak di Indonesia sekitar 3 kali lipat lebih banyak daripada di Inggris.

Radiasi Medis

Paparan radiasi adalah faktor resiko yang cukup tinggi yang diketahui dapat menyebabkan kanker otak. Jenis tumor otak meningioma dan (yang sedikit lebih tingkat lanjut) glioma – bersifat kanker, lebih umum terjadi pada orang yang pernah menjalani radioterapi (CT Scan atau X-Ray di kepala).

Namun begitu, perlu untuk diingat bahwa X-ray dan CT scan juga sangat penting untuk mendiagnosis suatu penyakit, jadi anda bisa mendapatkan perawatan yang tepat. Dokter anda pasti akan menjaga paparan radiasi medis serendah mungkin saat melakukannya.

Kanker Sebelumnya

Orang-orang yang pernah memiliki kanker pada saat anak-anak memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena tumor otak di kemudian hari. Mereka yang pernah terkena leukemia atau limfoma non-Hodgkin saat usia dewasa juga memiliki resiko yang tinggi.

Terdapat beberapa bukti yang menunjukkan adanya peningkatan resiko tumor otak pada orang dewasa yang menderita kanker jenis lainnya, tapi ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasikannya. Peningkatan resiko terkena tumor otak mungkin disebabkan oleh pengobatan kanker sebelumnya, seperti radioterapi di kepala.

Pemberian obat kanker methotrexate pada cairan di sekitar sumsum tulang (intrathecal methotrexate) untuk pengobatan leukemia juga menunjukkan peningkatan resiko tumor otak. Namun begitu, penting untuk diingat bahwa peningkatan resiko terkena tumor otak akibat pengobatan kanker adalah lebih kecil dibandingkan resiko tidak melakukan perawatan untuk penyakit kanker yang diderita.

Faktor Genetik dan Garis Keturunan

Sebagian kecil dari tumor otak diketahui berhubungan dengan kondisi genetik seseorang. Orang yang memiliki salah satu dari sindrom langka ini mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena tumor otak. Sindrom ini menyebabkan sejumlah masalah medis yang berbeda, dan anda mungkin dapat melihat jika ada salah satu dari berikut ini diderita oleh keluarga anda:

  • Neurofibromatosis tipe 1 dan 2
  • Tuberous sclerosis
  • Sindrom Li-Fraumeni
  • Sindrom von Hippel-Lindau
  • Sindrom Turner
  • Sindrom Turcot
  • Sindrom Gorlin
Jika anda memiliki orang tua, saudara laki-laki, atau saudara perempuan yang didiagnosa menderita tumor otak, maka resiko anda untuk terkena juga lebih tinggi daripada orang lainnya.


Kondisi Medis Lainnya dan Obat-Obatan

Orang dengan HIV atau Aids memiliki sekitar dua kali lipat resiko didiagnosa menderita tumor otak dibandingkan dengan populasi masyarakat umum.

Wanita pada masa Post Menopause yang menjalani terapi penggantian hormon (TPH) mungkin memiliki sedikit peningkatan resiko terkena meningioma dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah menjalani TPH. Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral juga mungkin memiliki resiko lebih tinggi terhadap meningioma, namun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengkonfirmasi hal ini.

Ukuran Tubuh dan Latihan

Memiliki kelebihan berat badan (punya ukuran pinggang yang lebih lebar atau indeks massa tubuh lebih besar – IMB) memberikan resiko sedikit lebih tinggi untuk terkena meningioma daripada mereka yang bertubuh lebih kecil. Namun kelebihan berat badan diketahui tidak mempengaruhi resiko untuk terkena glioma.

Anak-anak yang beratnya 4kg atau lebih pada saat lahir memiliki resiko lebih kecil untuk terkena beberapa jenis tumor otak dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan bobot lebih ringan.

Penelitian yang melihat hubungan antara makanan dan minum dengan resiko tumor otak sepertinya kurang cukup diakui. Hal ini karena kasus tumor otak relatif jarang terjadi, sehingga mengukur pola diet yang akurat tentunya sangat sulit. Orang-orang yang aktif secara fisik sangat mungkin untuk mengurangi resiko terkena tumor otak, namun bukti-bukti yang ada masih bercampur.

Faktor Lain Yang Menyebabkan Kanker Otak


Para peneliti telah mencoba melihat faktor-faktor lain yang memungkinkan untuk meningkatkan kemungkinan seseorang terkena tumor (kanker) otak, antara lain:

  • Kabel Listrik: Beberapa penelitian telah mencoba mengetahui apakah tinggal di dekat kabel listrik meningkatkan resiko tumor otak, tetapi sampai saat ini mereka belum menemukan bukti peningkatan resiko.
  • Telpon Seluler: Penelitian masih berjalan menyelidiki ponsel-ponsel untuk melihat seberapa banyak radiasi tingkat rendah (bebas ion) yang mereka hasilkan. Dari bukti sejauh ini masih belum bisa disimpulkan jika ponsel dapat menimbulkan masalah kesehatan. Walau ada kekhawatiran khusus mengenai ponsel yang menyebabkan tumor otak, namun bukti kuat belum ditemukan.
  • Pewarna Rambut: Menurut penelitian terbaru, menggunakan pewarna atau cat rambut mungkin dapat meningkatkan resiko seseorang memiliki tumor otak.
  • Rokok dan Alkohol: Masih belum jelas apakah merokok mempengaruhi resiko seseorang untuk terkena tumor otak. Tetapi beberapa penelitian telah menunjukkan bukti peningkatan resiko untuk beberapa jenis tumor otak. Sedangkan minum alkohol tampaknya tidak mempengaruhi kemungkinan seseorang untuk menderita tumor otak.

Berikutnya baca:
Yang sebelumnya:
Referensi:



Bantu saya untuk men-share artikel di atas agar lebih banyak orang yang membaca dan mengetahuinya. Terima kasih...